“Ahli ibadah pada awalnya merasakan lelahnya menanggung beban dan kesulitan beramal, karena hatinya belum merasakan kedekatan kepada sesembahannya(Allah).”(Ibnu Al Qayyim)
Semangat setiap waktu!!!^^
Semangat me-Revolusi hidup!!!^^
Seso, Jepon, Blora. Arba’a, 7 Syawal 1432 H
Masih suasana syawal, kalau di tempat saya tanggal 7 syawal begini baru dapat menikmati makanan “sakral”, makan ketupat dan lepet. Kalau dalam suatu buku kejawen yang pernah saya baca ketupat yang berbentuk bangun “limas alas ketupat” itu sebagai perlambang wanita, sedangkan lepet yang berbentuk lonjong berbungkus daun kelapa adalah perlambang pria, sebuah keseimbangan dalam hidup, pria dan wanita.
Kupat, kleru lan lepat (salah dan kesalahan). Lepet, lewatno cepet (lewatkan dengan cepat). Artinya dalam suasana “lebaran” dimana kita harus melebarkan maaf harus segera mempercepat “melepaskan” segala kesalahan tindak dan tanduk kita kepada Tuhan dan sesama mumpung di bulan penuh ampunan (kira-kira begitulah filosofisnya lebaran bagi orang jawa).hehe
Masih terbawa juga dengan suasana syawal, tema saya kali ini bukanlah perenungan hidup. Namun terlebih bersifat pengingat dan tips. Tema kali ini adalah tentang bagaimana kita selalu dapat menikmati ibadah dengan “lezat”, Biasanya kita begitu bersemangat beribadah pada momen “spesial” saja, semoga ini juga dapat selalu memotivasi dan menginspirasi kita untuk menjaga keistiqomahan. Semoga bermanfaat.
Beberapa dekade minggu yang lalu saya membaca majalah yang kebetulan bertema sama dengan saya, semoga sumber tersebut mampu melengkapi apa yang dapat saya tuangkan nanti.
Banyak insan yang telah merasakan nikmatnya ibadah seperti beliau Rasulullah Muhammad dan para salaf shalih terdahulu. Kehidupan mereka pun terasa bermakna. Dalam sebuah kisah pernah saya baca, bagaimana nikmatnya Rasul dalam melaksanakan Tahajjud, rokaat pertama dilalui dengan surat Al Baqoroh , tak hanya itu bahkan berlanjut hingga Ali Imron sampai selesai (dapat kita bayangkan waktunya berapa jam itu kalau kita yang baca, hehe). Belum lagi Umar ra, yang menangis terus dalam solatnya hingga pipi beliau meninggalkan gurat hitam bekas air mata. Bagaimana dengan kita???
Meraih keistiqomahan dan kelezatan beribadah bukanlah hal yang mudah, butuh usaha dan pengorbanan untuk menggapainya. Pertama, LURUSKAN AQIDAH DAN MENGENAL ALLAH. Meluruskan Aqidah adalah penting karena akan membantu memantapkan kita dalam beribadah, makna ibadah kan bersyukur dan tunduk kepada Allah, jika kita tak mantap apalagi tak mengenal Allah lebih dekat, bagaimana kita dapat khusyu’ dalam beribadah???
“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk.” [TQS AL-BAQOROH(2): 137]
Kedua, BERSUNGGUH HATI DAN BERTAHAP. Saya masih teringat bagaimana awalnya saya harus memaksakan diri untuk subuh jamaah, ketika itu kelas tiga SMP begitu berat dan malas. Banyak dari kita memang harus “memaksa” diri untuk mengamalkan suatu ibadah. Sampai mungkin harus digebukin dulu agar mau solat. Sekedar tips, dengan mencari dan mendalami keutamaan sebuah amalan melalui buku dan kitab sangat memotivasi kita untuk melakukan amalan tersebut, sekedar contoh yang saya alami adalah betapa besar semangat saya untuk dhuha dan tahajud. Bahkan jika sudah menjiwai suatu amalan kita akan merasa ada yang “hilang” jika tak mengerjakannya, serasa menjadi ibadah wajib. Yang penting adalah bagaimana anda dapat bertahap semampu kita. Mungkin di awal hanya dua rokaat, namun dengan kontinyu kita tambah seiring manfaat yang kita rasakan dalam hidup.
Ketiga, GIATKAN AMALAN-AMALAN SUNNAH. Cobalah untuk membiasakan menambah kualitas ibadah wajib kita dengan ibadah sunnah, dalam suatu hadis qudsi saya pernah diceritakan oleh ustadz saya. Bahwa pada saat penghisaban amalan solat kita nanti Allah akan memerintahkan malaikat untuk memeriksa solat sunnah kita jika ternyata solat wajib kita kurang sempurna, dengan kata lain solat sunnah tadi menjadi penyempurna nilai solat wajib kita.
Keempat, TADABBUR QURAN. Seperti kita tahu, AlQuran sebagai asy syifa’ (penyembuh) adalah obat penyembuh hati dari penyakit dan pembersih serta pelembut bagi hati yang keras. Saya pernah mendapat pesan dari ustadz bahwa membiasakan mengaji terjemah Quran sangat bermanfaat sekali. Biasanya kita mengaji kan hanya membaca ayatnya saja, tak pernah mencoba lebih untuk mangaji terjemahnya juga. Ternyata subhanallah begitu dahsyatnya. Begitu kerasa ketika kita membaca sekaligus tahu artinya sewaktu solat.
Kelima, SELALU MENGINGAT MATI DAN MERENDAH DIRI. Kenapa anak kecil begitu mudah goyahnya dalam solat? Kenapa pikiran kita sering “lari-lari” ketika solat? Jawaban yang pertama karena kebanyakan anak kecil belum bertatakrama dengan baik (maklum anak-anak), jawaban kedua karena kita dengan sombongnya memikirkan urusan dunia sewaktu solat dan tak pernah mengingat mati sewaktu solat. Kita solat masih disibukkan memikirkan rencana apa aja setelah solat, naudzubillah.
Keenam, PILAH-PILIH TEMAN. Maksudnya bukannya kita membeda-bedakan teman berdasar strata sosialnya. Namun terlebih pada bagaimana kita mencari “teman hati” bagi kita. Kita harus memilah teman yang tepat untuk menjadi contoh bagi kita, sosok yang dapat mengingatkan dan mampu membuat kita tergugah untuk semakin menambah amalan kita. Saya sering “iri” melihat kualitas ibadah orang lain, hal itulah yang selalu manjadi motivasi untuk beribadah “lebih”.
Pesan penutup, semua aktifitas yang kita laksanakan butuh dua hal pokok, NIAT DAN MOTIVASI. Selalu meluruskan niat untuk Allah dan mencari motivasi yang pas dengan hati kita adalah sebuah langkah tepat, semoga kita semua dapat mengistiqomahkan diri wahai saudara-saudaraku.
SALAM MA’RUF. SEMANGAT DAHSYAT AKURAT BERIBADAH SELALU!!^^
“Ya Allah, tetapkanlah kebaikan-kebaikan dalam hidup kami karena sesungguhnya segala kebaikan hanya ada pada-Mu, dan lindungilah kami dari keburukan-keburukan karena sesungguhnya Engkaulah Pelindung Terbaik. Aamiin.
==================================================================
Mohon maaf bila ada kesalahan dalam sikap keseharian penulis yang masih Saudara jumpai, mari saling mengingatkan dalam kesabaran dan kebaikan.^^
*artikel karya saya ASLI, dengan penambahan berbagi sumber dapat anda lihat pula di website: http://www.teguh-be-leader.blogspot.com
@teguhleader
"TeguhRevolutioner", semangat berevolusi untuk lebih baik dan peduli.
Kurenungi Kehidupanku yang Lalu... Untuk Kehidupan di Masa Mendatang... Untuk Menjadi Berarti, dimulai menjadi Tidak Berarti
Kamis, 15 September 2011
Sabtu, 03 September 2011
HAKIKAT SILATURAHIM DAN RAMADHAN YANG LEWAT
Bismillah Arrohman Alghoffur…
Seso-Karanganyar, Jepon-Bogorejo. Blora, 31 Agustus 2011.
Minal ‘aidin wal faizin, mari kita kembali kita kembali pada kemenangan.
Taqobalallahu minna wa minkum, semoga Allah menerima ibadahku dan ibadah kamu sekalian^^
Biidznillah, bagaimana lebaran saudara sekalian? Penuh gegap gempita dan hiruk pikuk sanak saudara kah? Sebuah kegembiraan yang tak ternilai yang kita rasakan ketika berjumpa dengan orang-orang tercinta. Ada kepuasan tersendiri yang tak dapat dinilai dengan materi. Tak terkecuali dengan keluarga besar di lingkungan saya hidup, meskipun ada beberapa anggota yang belum hadir karena berhalangan, hal itu tak menyurutkan semangat untuk saling “mempertemukan tangan” dan hati.
Ada dua hal yang sempat saya renungkan melihat keberagaman anggota keluarga serta menangisnya hati ketika malam takbiran kemarin, dua pembelajaran yang semoga bermanfaat. Pertama, tentang KEISTIQOMAHAN HATI DALAM BERAMAL SETELAH RAMADHAN. Ramadhan tahun ini adalah yang paling berkesan selama 19 tahun saya hidup di bumi Allah ini, hati yang semakin luas, pemikiran yang semakin dewasa dan bijak karena banyak “diajari” Allah bagaimana hidup, membuat saya begitu terharu dan menangis, menangis dalam hati (karena mata saya memang sulit menangis dibandingkan mata hati). Separuh malam takbir kemarin saya habiskan di masjid Baitunnur dengan rekan-rekan (begitu banyak pula saya dapat hikmah yang saya tangkap dan dapat malam itu, semoga di lain kesempatan saya dapat berbagi), seperempat dihabiskan di tempat tidur dan tempat solat rumah tercinta. Seperenam takbir di mushola rumah. Sungguh senang hati ini namun juga sedih, paradoksial.
Sahabat, hidup cuma sekali maut pun begitu dekat dengan kita. Tak pernah kita tahu apakah ramadhan tahun depan masih berjumpa, bayangan malam kemarin begitu penuh dengan maut, menangis sejadi-jadinya banyaknya dosa yang belum terhapus dan amalan yang masih ringan. Menangis mengingat saudara yang telah meninggalkan dunia yang tahun lalu masih melewatkan waktu lebaran bersama.
Lantas bagaimana seharusnya kita? Yang terpenting bagi kita yang masih diberi hak hidup dan kewajiban ibadah, di momen setelah ramadhan ini adalah bagaimana kita masih istiqomah di waktu selanjutnya dalam menjalankan amalan-amalan ramadhan kita lalu yang begitu getolnya , jangan sampai kita tergolong orang yang keterlaluan (lihat catatan saya “Lima Golongan Pentarhib Ramadhan”). Jikalau kemarin kita getol tiap hari mengaji quran, mbokyao jangan “putus hubungan” dengan amalannya tersebut. Harapan lebihnya, anda dapat menindakkan dengan semangat amalan sunnah yang sebelumnya tak pernah (jarang) dikerjakan. Sukur-sukur sodaqohnya semakin bertambah.^^
Kedua, ESENSI LAIN DARI SILATURAHIM. Sahabat, dosa kepada Allah kita cukup meminta maaf kepada Allah. Namun dosa kepada sesama manusia, kita harus mendapatkan keikhlasan orang lain agar dosa kita termaafkan. Mengingat pesan tersebut, sudah barang tentu minggu ini banyak agenda silaturahim keluarga maupun teman sejawat. Dari yang berkunjung door to door, reuni, kumpul bareng, dan sejenisnya. Ada sebuah nasihat bijak di dalam aktifitas tersebut selain kesakralan acara halal bi halal untuk saling melebur dosa dalam keikhlasan. Ada pesan apa? Kata guru saya, “Kerendahan hati akan menghadirkan keikhlasan dan menciptakan kekeluargaan serta membawa diri kepada kemuliaan.” Banyak fenomena baik itu sengaja atupun tidak, terang-terangan atupun disembunyikan. Fenomena “pamer”, pamer kedudukan, pamer kekayaan, dan pamer kehormatan di mata keluarga ataupun tetangganya. Pamer hasil usahanya mengeruk harta di kota ataupun di tempat kerja. Sesama keluarga bersaing untuk mendapat predikat yang paling bagus, paling kaya dan paling terhormat. Ada yang seperti itu diantara kita? (Bagi kita memang belum pamer harta kita namun pamer keadaan kita, pamer pendidikan kita serta pamer fasilitas hidup)
Hendaknya momen bertemu dengan saudara tersebut kita gunakan untuk mengikat kembali persaudarann yang belum tersambung, bukanlah justru menyulut api cemburu dan perpecahan. Tak dapat kita pungkiri, watak masing-masing manusia berbeda. Tempatkanlah diri kita sebagai golongan yang legowo dan rendah hati. Momen lebaran yang dihadiri lengkap sanak keluarga dapat dijadikan sebagai sarana untuk saling mengingatkan dan mengajak kepada kesabaran dan kebaikan.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” [QS AL-ASR(103):1-3]
Demikian dua pesan semoga dapat bermanfaat bagi saudaraku semua. Pesan terakhir bersifat tambahan bagi yang pemudik. Berhati-hatilah dalam perjalanan, utamakan kelapangan hati dan kesabaran nurani serta etos kedisiplinan jiwa. Jangan biarkan mudik menjadikan anda terdzalimi. Berdoa, ibadah dan istirahat adalah menu yang tak boleh dilewatkan.
Salam Mudik 2011!!!^^
Semoga lancar dan selamat sampai tujuan^^.
BERDAYAKAN HATI, SALING MEMAAFKAN!!!!^^
SALAM MA’RUF. SEMANGAT DAHSYAT AKURAT BERIBADAH SETIAP WAKTU!!^^
=====================================================================================
*Alhamdulillah janji selama bulan ramadhan, note-note inspirasi akan saya luncurkan dua kali seminggu, bi idznillah sudah terlaksana. Sesuai SOP saya, note akan saya luncurkan kembali dengan jadwalseminggu sekali. Semoga bermanfaat. Barokallahu fiikum^^.
*artikel karya saya ASLI, dengan penambahan berbagi sumber
@teguhleader
"TeguhRevolutioner", semangat berevolusi untuk lebih baik dan peduli.
Minggu, 28 Agustus 2011
PERIODISASI SEPULUH HARI SEKITAR ROMADHON
Masih semangat di bulan romadhon?
Sudah tak sabar dengan lebaran?
Atau menangis karena mau ditinggal romadhon?
Masih ada harapan untuk bertemu romadhon di tahun depan? Adakah kesedihan di hari ke-28 ini? Atau masih enjoy dengan euforia romadhon tanpa ada aktifitas yang bermanfaat?
Kesempatan kali ini, ingin saya menyampaikan sedikit ulasan semoga bermanfaat dan menggugah hati, mungkin juga akan membuat kedua bibir kita tersenyum sungging karena pernah mengalami.
Sebulan ini kita telah hampir melewatkan bulan romadhon, bulan yang penuh berkah, sore tadi saya mendapat inspirasi. Inspirasi tentang minggu-minggu yang mengiringi bulan romadhon ini. Tinjauan ini mungkin berbeda dengan tinjauan teman-teman (ya..iyalah..namanya aja tinjauan).hehe
Sepuluh hari pertama, minggu pertama romadhon kira-kira yang menarik perhatian apa ya? Minggu pertama romadhon ini minggu di mana masjid dan mushola pada penuh dan berjejal dengan jamaahnya. Serta menjamurnya pedagang musiman penyedia buka puasa.
Sepuluh hari kedua, minggu kedua ni rame-ramenya masyarakat berbondong-bondong belanja. Belanja pahala di bulan berkah ya? Bukan!!!, tapi belanja pakaian. Pakaian euforia satu syawal, hehe. Ada lagi, yang mengambil “cuti”, cuti kerja?sekolah? Bukan lagi!!!, ini “cuti” tidak puasa (kalau ustadz saya bilang “poso ngendhang”, puasa hanya di awal dan di akhir, kendhang kan alat musik berongga dengan tutup di kedua sisinya).
Sepuluh hari ketiga, ini yang sekarang kita jalani ya. Sepuluh hari ketiga inilah kita sibuk banget, jalanan padat, masjid pada sepi, rumah sepi, kampung-kampung jadi ramai secara tiba-tiba.hehe. “Ada apa gerangan?” , di minggu ini kita menyibukkan diri dengan persiapan mudik ataupun perjalanan mudik itu sendiri. Jalanan ramai beserta kampungnya. Namun yang patut disayangkan, banyak korban meninggal dalam tradisi mudik setiap tahunnya akibat kelalaian pengendara.
Sepuluh hari keempat, lebaran datang dan membawa keberkahan, ampunan dan kebahagiaan. Kebahagiaan yang tak dapat dinilai dengan uang serta waktu, kebahagiaan jiwa saya menyebutnya. Ada sebuah hal yang cukup menggelikan di sepuluh hai keempat ini, yaitu Pegadaian ikut ramai!!!^^. Ramai karena banyak masyarakat kita yang ber-tabdzir(boros) ria membelanjakan uang untuk lebaran, karena memaksakan diri akhirnya terpaksa deh barang-barang diagunankan untuk meng-cover pengeluaran.hehe. Ada lagi yang ramai, siapa? “Dokter!!!”, “Kok bisa?”, ya donk, kan banyak dari kita begitu buasnya memangsa dan melampiaskan kelaparan kita sebulan penuh dengan makan sebnyak-banyaknya makan. Akhirnya apa? Banyak yang sakit.(tentu taulah kira-kira sakit apa), haha.
Sahabat muslim, apakah ada dari kita yang terjebak dalam rutinitas tahunan seperti diatas? Ada beberapa pesan tersirat di dalamnya jika kita peka untuk merenunginya. TINGGALKANLAH KESAN, buatlah ramadhan kita berkesan. Layaknya peringatan kemerdekaan negara kita, kita pun harus “memeriahkan” waktu dan hati kita dengan ibadah ataupun hal yang bermanfaat. Mengapa begitu? Kita butuh waktu setahun untuk menunggu hadirnya ramadhan, setahun itu lama bagi kelangsungan hidup, jadi tinggalkanlah selalu kesan yang indah dalam ramadhan karena kita belum tentu dapat menjumpainya lagi tahun depan.
ISTIQOMAHLAH, berteguh hati, konsistenlah dalam menjalankan ibadah romadhon. Jangan seperti “golongan kurang ajar” (lihat catatan saya, “Lima Golongan Pentarhib Romadhon), jangan giat di awal saja, namunterus menambah tingkatan dan kualitas setiap waktu.
JANGAN BERLEBIHAN, banyak kita berlebihan dalam menyambut sesuatu namun tak pernah mencoba mencari dan menghayati filosofi pembelajaran bagi kehidupan dari hal tersebut. Sebut saja perayaan Hari Pendidikan Nasional, hendaknya bukan hanya ritual upacara dan berbagai perhelatan perlombaan yang mewah saja yang kita lebihkan namun lebih utama bagaimana kita memaknai pendidikan itu sendiri (makna bukan untuk sekedar ditulis dalam wujud “tema” dalam spanduk). Jangan berlebihan dalam membelanjakan budget untuk hal yang tidak ada kemanfaatan di akhirat. Sudahkah kita evaluasi pengeluaran kita antara hura-hura dengan sedekah???
SABAR DAN TELITI, sabar itu mudah di satu waktu namun sulit di setiap waktu, jadilah pribadi yang sabar dalam segala kondisi. Dengan mengedepankan sabar, kita akan turut membantu menjaga harmoni ihsan kita. Banyak pemudik yang tidak sabar dan emosional, dengan mengedepankan dua hal itu justru akan menghadirkan yang namanya ketidaktelitian. Ketidaktelitian akan berakibat eror, eror akan membahayakan kita dan orang lain. Mari kita lekatkan filosofi sabar puasa dalam setiap segmen hidup kita.
PRIBADI VISIONER, pribadi yang selalu merencanakan matang segala apa yang akan dilakukannya untuk memperkecil eror dan memperbesar keberhasilan. Dari ilustrasi sepuluh hari keempat coba lihat, begitu tergambar jelas masyarakat kita bahkan kita sendiri kerap tanpa perhitungan hanya untuk mendapat kepuasan dan pujian dari orang yang ditemuinya. Masyaallah, sebuah kedzaliman terhadap diri kita sendiri. Perlu menjadi instropeksi bagi kita mumpung belum kebablasen.
Sobat muslim, alhamdulillah kita akan telah menapaki ramadhan 1432 H dengan lancar dan penuh hikmah. Semoga kita selalu memilih istiqomah sebagai pilihan sifat dalam beribadah danberbuat baik setiap waktu tidak momen romadhon saja. Semoga kita diberi kesempatan Allah untuk dapat selalu menikmati bulan romadhon di tahun berikutnya. Filosofi kata “Lebaran” dari kata “lebar” dapat diartikan dengan lebar. Artinya apa? Artinya kita harus melebarkan pintu maaf kita dan melebarkan hati kita untuk meminta maaf. Agar semakin luas dan lebar hati kita untuk diisi dengan kebaikan.
SEMOGA BERHIKMAH!!!^^
Menyitir dua hadis semoga dapat memotivasi dan membuat kita rela dan ikhlas memaafkan ataupun meminta maaf kepada orang lain. Karena saya belum berkeluarga (haha...) saya mewakili keluarga ayah dan keluarga kakak saya, menghaturkan permohonan maaf atas segala kesalahan sengaja ataupun tidak, langsung ataupun tidak langsung.
“Barangsiapa memaafkan seorang muslim, Allah akan memaafkan kealfaannya.” (HR ABU DAWUD)
”Allah tidak akan menambahkan bagi hambanya yang meminta maaf, melainkan hanya kemuliaan.” (HR MUSLIM)
================================================================
Allahu akbar... Allahu akbar... Allahu akbar...
Allahu akbar kabirowwalhamdulillahi katsiro
Wasubhanallahi bukrotawwaasiilaa
Laa illa ha illallah,hu allah akbar
Allahu akbar walillah hilhamdu
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN!!!^^
Gunawan big family
*artikel karya saya ASLI
Kamis, 25 Agustus 2011
SEBUAH PESAN DARI SANG AIR
Merendahlah seperti bintang, nampak bagi setiap yang memandang
Di atas permukaan air, padahal ia jauh tinggi di awang-awang
Dan jangan seperti asap, meninggikan dirinya
Menuju langit, padahal dirinya hina
(syair arab)
Berkebun adalah sebuah kegiatan yang menurut saya sarat dengan seni dan filosofi kehidupan. Meskipun saya seorang lelaki, berkebun menjadi aktifitas sampingan saya kala senggang dan menurut saya dapat menghilangkan ke-“galau”-an (haha…galau lagi…galau lagi…), seperti sebuah nilai filosofis yang saya “tangkap” ketika membonsai tanaman kamboja jepang milik ibu saya. Sebuah pembelajaran tentang tawadhu’ atau kita kenal dengan rendah hati. Filosofis ini adalah perenungan saya, sangat dimungkinkan jika saudara sekalian menemukan makna lain di dalamnya.
Sahabat rahimahullah, jika kita perhatikan air untuk menyiram bunga, pernahkah kita berpikir, “Bagaimana bisa air kusiram di tanah kok naik ke batang daun dan menghidupi tumbuhan tersebut ya?”, mungkin pertanyaan itu pernah lewat di pikiran kita sewaktu kita masih kecil (seumuran enam tahun-lah), seiring tingginya jenjang pendidikan yang kita tempuh, akhirnya kita tahu bahwa ada semacam sistem transportasi pada kehidupan tumbuhan. Pemahaman SD air tadi dibawa oleh akar, semakin ke SMP kita tahu ada jaringan xylem si tukang pengangkut air, dan SMA kita mengenal detil peristiwa dan organ apa saja yang terkait dalam sistem pengangkutan tersebut.
Subhanallah, Allah al Hakim selalu mencipta semua di dunia dengan teliti dan penuh pembelajaran dan manfaat (jika kita mau mencarinya).Dari air kita dapat belajar tentang rendah hati, lihatlah air tersebut dari berbagai sumber. Dari sumber yang hina ataupun yang indah. Mereka rela dan tak mengeluh karena Allah untuk “memulai dari bawah” kita siramkan di tanah yang kotor dan hitam bercampur kotoran, tetap tawadhu’. “Lantas apa balasan Allah baginya?”, balasan Allah baginya adalah KEMULIAAN. Kemuliaan akhirnya didapat, dari sifat endah hati tadi dia diangkat dan terus diangkat untuk mengisi batang, daun, buah yang kesemuanya itu nanti dimanfaatkan oleh manusia. Sungguh saya yakin, andai air dapat berbicara tentu mereka akan mengatakan sangat senang dan bangga jika dapat bermanfaat bagi manusia dalam bentuk yang indah.
“Dan tidaklah seseorang itu bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”(al hadis)
Tawadhu’ pada hakikatnya adalah mengerahkan rasa hormat, kelembutan, dan penghargaan kepada orang yang berhak mendapatkannya(dalam Rasa’il Al-Ishlah[1/127]). Ingin saya nukilkan sebuah hadis yang disampaikan oleh Abu Hurairah r.a, semoga dapat menjadi motivasi pengingat kita akan pentingnya tawadhu dan suka memberi maaf.
“ Allah tidak menambahkan nikmat atas pemberian maaf dari seorang hamba melainkan dengan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”(HR Muslim)
Allahu akbar, dari hadis di atas sebenarnya ada beberapa “balasan” yang positif dari Allah kepada kita yang tawadhu’. Pertama, Allah akan memberikan kemuliaan kepada seseorang yang pemaaf. Sebuah kemuliaan di hati orang lain dan di hadapan Allah. Kedua, Allah akan mengangkat derajat seseorang di dunia dalam bentuk apa saja sekehendak Allah serta menetapkan dengan tawadhu’-nya itu satu kedudukan atau tempat khusus-lah di hati orang lain. Lalu Allah akan mengangkat martabat dan meninggikan derajat kita di mata orang lain. Wah, enak juga ya dengan tawadhu kita sudah mendapatkan kedudukan terindah di hadapan orang lain, tak hanya itu bahkan di hadapan Allah juga. Berarti memang langkah yang kurang bijak jika kita ingin mendapatkan kedudukan, pengakuan(bahasa saya “eksistensi”, hehe) dari orang lain dengan cara yang salah dan cenderung zalim dan berlebihan bahkan aneh, lebai dan alay (tentu masing-masing dari anda sudah tau kan yang saya maksud).
Sungguh dahsyat hasilnya jika kita mengamalkan satu sunnah rasul diatas. Bagaimana jika kita mengamalkan semuanya ya? Pasti semakin bagus kita(peribahasa saya,”Akhirat katut, donya kanut”[akhirat dapet dunia ikut]).Hehe. Namun yang saya tekankan di akhir note saya kali ini adalah perlunya kewaspadaan kita tentang suatu batasan agar kita tidak tergolong hamba yang zalim, berlebihan dan berakhir merugi.Ibnu Al Quddamah mengatakan,”Ketahuilah! Sifat ini(tawadhu’)-seperti sifat yang lain pula- mempunyai dua sisi dan satu pertengahan. Sisi yang condong kepada sikap berlebihan dinamakan keangkuhan dan sisi yang lebih condong kepada kekurangan disebut kerendahan dan kehinaan, sedangkan yang pertengahan disebut sebagai sifat yang tawadhu’, yaitu bersikap merendah tanpa menghinakan diri.” Nah, dari sedikit uraian ini hendaknya dari sekarang kita harus bijak, rendah hati namun jangan rendah diri. Berbangga hati namun untuk diri sendiri dan Allah, bukan untuk dipamerkan kepada orang lain(dipamerkan tak hanya diperlihatkan, namun juga diucapkan dan diperdengarkan).
SIAP BERTAWADHU’???
JANGAN LAMA-LAMA MENUNGGU, MARI SEGERA KITA MULAI.
GAPAI KEMULIAAN DIRI, CINTA INSANI DAN ILAHI^^
SALAM MA’RUF!!!^^
SALAM KEBAIKAN. MARI SALING MENGINSPIRASI!!!^^
MARI BERDAYAKAN HATI KITA!!!^^
Sebuah syair penutup,
Engkau merendah dengan tawadhu‘ dan meningkat tinggi dengan kemuliaan
Urusanmu hanya dua, merendah dan meningkat
Laksana mentari, semakin jauh meninggi
Tapi sinarnya semakin dekat menyengat
Mohon maaf bila ada kesalahan dalam sikap keseharian penulis yang masih Saudara jumpai, mari saling mengingatkan dalam kesabaran dan kebaikan.^^
*artikel karya saya ASLI, dengan penambahan berbagi sumber
@teguhleader
"TeguhRevolutioner", semangat berevolusi untuk lebih baik dan peduli.
Senin, 22 Agustus 2011
KETIKA JIWA PROTES
Perhatikan hati,
Penuhi kebutuhan rohani,
Jika tidak, ia akan menuntut,
Dengan melahirkan kegalauan, dan kehampaan,
Masing-masing kita, memiliki sahabat lama,
Ada yang mengingatnya, dan ada yang melupakannya,
Dialah HATI…..(Ust.Yusuf Mansur)
Dalam sebuah kajian, ustadz saya menceritakan sebuah kisah. Kisah tentang jiwa teman beliau yang “protes”. Sebut saja Teguh orangnya(agar tidak timbul polemik nama,hehe). Beliau adalah orang yang dapat dibilang sudah memiliki segalanya. Rumah semewah rumah Jaksa Cyrus Sinaga, istri secantik Syahrini, anak yang sehat, pintar, dan lucu seperti “si Baim”. Kariernya sebagai pengusaha dan pegawai negeri pun mantap dan sedang meningkat cepat, mengalahkan kecepatan karir “Bung Nazaruddin” yang 32 tahun sudah menjadi pengusaha dan koruptor sukses.
Namun Pak Teguh ini tampaknya masih merasa ada yang “kurang”(udah kayak gitu kurang apa lagi coba?,haha), yang menyebabkan hidup terasa hampa, begitu keluhnya. Bahkan cantiknya istri, wajah lucu anaknya serta karier yang hebat belum mampu menolongnya untuk menghindari kehampaan hidup yang dirasa. Menghibur diri? Segala rekreasi sudah ia coba, berkumpul dengan rekan bisnis sudah dicoba. Namun masih saja perasaan hampa itu masih menyelimuti, seolah tak mau pergi.
Hingga suatu sore kala beliau jogging di kompleks rumahnya yang elite, Ia menemukan pemandangan yang tak pernah ia temui selain di sinetron yang tiap hari ditonton di televisi 50 inchi miliknya. Dihadapannya, seorang ibu sedang menangis tersedu, dia mencoba peduli dengan bertanya, “Ada apa engkau menangis Bu?” , si ibu bercerita bahwa ia sangat bingung melakukan apa, anaknya seminggu sakit demam tak turun panasnya, dirinya baru saja dipecat sebagai buruh cuci karena dia sering telat datang, hal itu dikarenakan ia harus merawat anaknya terlebih dahulu. Semakin lengkap pula derita si ibu karena suaminya telah tiada. Masya Allah, bagaimana jika itu terjadi pada kita atau istri kita?
Terdorong melihat derita yang hebat itu, akhirnya Pak Teguh pun iba dan berniat membantu. Ia pun meminta diantar ke rumah ibu tersebut. Ia menyusuri lorong yang sempit, dan panjang bin kumuh pula. Dirinya baru sadar ternyata banyak yang tinggal di lingkungan seperti itu, sangat berbeda dengan keadaan di kompleksnya.
Sesampai di rumah si ibu, tergolek bocah tak berdaya. Terbayang ada obat disampingnya, makanan pun tak ada! Masyaallah. Lagi-lagi beliau teringat bagaimana komplit menu makanan di rumahnya yang semuanya tinggal ambil tanpa susah dan selalu tersedia sangat lezatnya. Pak Teguh yang harinya jauh dari peduli akhirnya mengobatkan anak tersebut. Singkat cerita ustadz saya, si anak pun sembuh. Ibu tersebut bahkan dibekali uang yang cukup dan anaknya Ia janjikan akan disekolahkan.
Apa yang terjadi saudaraku semua? Pak Teguh merasa “gembira”, sebuah kegembiraan baru, kegembiraan yang belum pernah Ia rasakan. Ia telah menemukan kebahagiaan sejati,bukan kebahagiaan semu. Seketika rasa galaunya pun terasa tak ada. Sebuah kegembiraan yang merasuk di dalam lubuk hati paling dalam.
Saudaraku, tak sedikit barangkali yang pernah mengalami “episode kehidupan” seperti Pak Teguh diatas. Tak sedikit pula barangkali salahsatu dari kita ada yang mengalami seperti ibu tadi. Wallahu’alam. Sejenak mari kita renungkan, apakah benar kehampaan, kegalauan yang sering kita rasakan karena “PROTES JIWA” kita? Protes karena tak pernah kita pedulikan “kebutuhannya”. Dahaga kebutuhan fisik yang tak pernah puas selalu kita tuliskan dalam buku mimpi kita hingga seratus halaman pun tak mampu untuk menuliskan “CUKUP” pada buku mimpi kita. Namun sungguh paradoksial sekali jika tak pernah menuliskan keinginan jiwa kita. Keinginan yang selalu kita kesampingkan karena orang lain tak dapat melihat serta memuji mimpi kita itu.
Protes jiwa tergambar dari kekosongan dan kehampaan hati, sebagaimana yang dirasakan Pak Teguh tadi. Bagi kita sering menyebutnya dengan kegalauan, kegelisahan serta keresahan. Banyak orang yang bercerita saya kalau sekarang “musim galau”(haha…ada-ada saja). Agaknya banyak yang salah persepsi tentang “galau” ini, agaknya galau dimaknai perasaan yang bingung, sepi, sendiri, kosong malah. Berdasarkan pengalaman saya(ciiee..) galau ini menjangkiti jiwa kita yang sedang dirundung suatu tekanan. Singkatnya, ingin dinasihati namun tidak mau mengerjakan, semangat tinggi namun mudah patah(simpelnya lagi, pengen diperhatiin kali yee..:D). Ada dua buah solusi dari saya, jiwa yang galau adalah karena keringnya hati akan kebaikan dan jauhnya cinta kepada Tuhan. Jadi ketika galau datang, datang saja kepada Tuhan, mengadu, curhat doong…tak hanya mengadu, segera action dunk , gimana caranya? Segera lakukan kebaikan, karena ditengah tindak baik tadi lah kita nanti akan menemukan apa yang harus kita lakukan.
Dari cerita ustadz saya diatas, seharusnya mulai detik anda membaca note saya ini ada sebuah kesadaran dalam diri kita bahwa kepuasan materi yang mengabaikan pemenuhan aspek ruhani akan menjauhkan diri dari Allah. Jauh dari Allah sama artinya dengan hilangnya kebahagiaan sejati. Kok gitu? Karena Allah lah pemilik kebahagiaan sejati, trus dimana Allah Sang Pemilik Kebahagiaan? Sungguh, Allah ada pada tangis orang-orang miskin. Allah ada pada tangis anak yang kelaparan. Allah ada pada wajah muram ayah dan ibu yang kesulitan memberi makan anaknya, dan Allah ada pada penderitaan orang-orang yang teraniaya. Mari temukan saudaraku, temukan Dia di sana, di tengah-tengah mereka. Temukanlah kebahagiaan, dengan jalan “menemui” mereka. JANGAN BIARKAN JIWA ANDA PROTES.
Sebuah pesan penutup saya, “ Kekayaan dan kesuksesan, bukanlah milik manusia. Ia milik Allah. Ketika Dia “mempercayakan” kepada kita, maka diantara sekian pesan-Nya adalah kita mau berterimakasih pada-Nya, dan sudi berbagi. Carilah kekayaan dan kesuksesan dengan jalan yang diridhoi Allah, karena semua milik Allah.
Mari beribadah yang baik, kita tingkatkan dua pintu utama agar kita mendapat karunia Allah, dengan SOLAT DAN SEDEKAH.
BERDAYAKAN HARTA!!!!^^
SALAM MA’RUF. SEMANGAT DAHSYAT AKURAT BERIBADAH DI BULAN ROMADHON!!^^
“Ya Allah, tetapkanlah kebaikan-kebaikan dalam hidup kami karena sesungguhnya segala kebaikan hanya ada pada-Mu, dan lindungilah kami dari keburukan-keburukan karena sesungguhnya Engkaulah Pelindung Terbaik. Aamiin.
Karena ada suatu halangan, kami mohon maaf minggu kemarin hanya meluncurkan satu note, insyaallah minggu ini akan kami luncurkan tiga note sebagai konsekuensi. Terimakasih selalu setia membaca, dan semoga dapat saling menginspirasi sesama.
*Artikel ASLI karya saya.
Langganan:
Postingan (Atom)