Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten
Tsalasa, 1 Rabiulawal 1433 H/24 Januari 2012
AllahuAkbar, Maha Besar Allah Tuhan Penguasa Waktu.
Yang telah memberikan saya waktu untuk berbagi uneg-uneg dengan Antum/na.
Di kesempatan ini saya ingin menyampaikan sebuah pesan tokoh sastra kenamaan di Indonesia, Bapak Taufik Ismail. Kira-kira pesan apa yang membuat tangan saya tergerak untuk menekan keyboard laptop saya ini ya?^^
Semoga bermanfaat, dan tak lupa saya ingin menyampaikan agar Antum/na berbagi dengan saudara lainnya jika memang bermanfaat.
Ada sebuah pertanyaan sebelum masuk lebih ke dalam, “Siapa yang mempunyai hobi membaca?, Siapa yang membiasakan membaca buku setiap hari dengan rutin? Siapa yang dalam waktu sepekan terhitung Anda membaca note saya ini telah “menghabiskan” sebuah buku? Sudahkah Saudaraku sekalian sampai detik ini telah membuat sebuah buku yang layak dipublikasikan? Pernahkah Anda mengikuti lomba tulis menulis?”
Silahkan jawab dalam hati, mengapa saya melontarkan pertanyaan itu? Sekedar menyadarkan Saudara sekalian betapa sangat minim kita sekarang ini menyempatkan untuk menulis dan membaca buku. Di tengah teknologi yang semakin maju, kegiatan membaca tampaknya semakin sepi peminat, meskipun canggihnya teknologi itu sebanding dengan kualitas model bahan bacaan, namun tampaknya tak mampu mendongkrak minat masyarakat untuk membaca. Tak jauh, menulis pun bahkan semakin “terpinggirkan” dari daftar hobi masyarakat sekarang. Nilai-nilai masyarakat yang membiasakan diri ingin hidup cepat, instan, dan mudah semakin menurunkan minat membaca terutama dari kalangan pemuda dan anak-anak sebagaimana yang kita tahu merekalah pemegang tongkat estafet semua lini di masa depan.
Dalam sebuah seminar Bapak Taufik Ismail menyampaikan sebuah pesan yang cukup memukul telak sadar kita. Kalau tidak salah Beliau mengatakan seperti ini, “Anak sekarang sangat minim minat membaca buku dan menulis. Bahkan duduk di bangku sekolah dari SD sampai SMA hanya mampu membuat dua karangan, apa itu? “CITA-CITAKU dan LIBURAN KE RUMAH NENEK.”
Bagaimana Saudaraku, apakah Antum/na sama dengan yang dikatakan Pak Ismail? Hanya berkarya dua biji itu saja. Pertanyaannya, Bagaimana Anda akan berwawasan luas dan matang emosional dan pikiran jika membaca dan menulis menjadi “aktifitas sampingan” saja?
Membaca merupakan perintah pertama Allah kepada Rasulullah, betapa esensial sekali jika kita renungkan. Banyak seminar dan kajian yang saya hadiri selalu mengingatkan agar menggemarkan diri untuk menulis dan membaca. Karena kita sadari atau tidak, “musuh” kita akan merusak mental pikiran dan ideologi kita dengan teknologi dan instanisasi.
Suguhan teknologi yang kian menggiurkan untuk dinikmati adalah salah satu penyebab kemalasan kita dalam membaca dan menulis, pemuda sekarang lebih sering kita lihat memegang piranti canggihnya disbanding membawa catatan dan buku-buku tebal. Dari laptop, PDA, handphone, tablet dan lainnya yang saya belum tau perkembangan terakhirnya lebih sering dipegang masyarakat era sekarang, bahkan bagi anak muda, handphone adalah pegangan dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan tidur pun dibawa. Hehe.
Memang alat-alat canggih tersebut memfasilitasi kita untuk dapat membaca berbagai sumber ilmu dengan mudah dan portable. Namun coba tanyakan pada diri Anda, “Berapa kali Anda membuka file-file pelajaran ataupun e-book tentang suatu ilmu dalam seminggu?” , tak perlu diragukan pasti banyak yang menjawab “Tidak pernah.” Jangankan membuka, melihat foldernya saja tidak pernah. Seolah file tersebut hanya menjadi pengisi harddisk yang kosong. Sekarang, “Situs apa yang sering anda kunjungi ketika berselancar via jaringan internet? Jawaban yang banyak adalah TWITTER, FACEBOOK, KASKUS, ataupun situs lain yang memang saya kurang familiar. Bahkan membuka situs google.com pun kalau ada tugas dari guru, dosen saja kan? Anda sendiri yang berhak menjawab.^^."Pengalih-pengalih” tersebut memang sengaja dikemas dalam bentuk yang menarik dan tak membosankan. Membuat kita terhanyut dan candu dengannya, sulit jika kita sudah terbiasa dengannya.
Sebagai sebuah refrensi untuk hati dan pikiran kita, kebiasaan menonton televisi akan membuat otak kita semakin pasif. Karena ketika kita membaca, otak kita juga akan membayangkan dan berpikir kira-kira gambaran dari kalimat itu apa, dan hal ini tidak kita dapat dalam teve karena teve sudah memvisualisasikan apa yang kit abaca dan dengar. Alat-alat canggih di atas tadi adalah sekumpulan piranti elektronik, dan piranti tersebut mengeluarkan radiasi, pancaran gelombang yang kurang bagus untuk tubuh kita. (Sampai-sampai Bapak saya pasti ngomel kalau Saya ketahuan tidur membawa hape).:D
Bayangkan betapa banyak madharat yang kita dapatkan dan tak kita sadari, mungkin masih banyak penelitian yang menunjukkan bahayanya bagi mental dan pikiran kita yang tidak dapat Saya paparkan.
Sahabat, mari kita renungkan apa sih sulitnya menyempatkan waktu untuk membaca? Mari kita perbaiki dan awali peradaban baru. Peradaban “Generasi Tukang Baca dan Penulis”. Meminjam tips Ustadz saya dulu, kata beliau jika kita malas membaca Quran, paksalah bahkan satu ayat pun setiap harinya tidak apa. Saya kira cara ini dapat kita pakai untuk membuat diri kita kembali pada “jiwa baca” kita:
1. Biasakan membaca bacaan sehari satu lembar atau satu bab. Tentunya bacaan yang bermanfaat.
2. Mulailah menulis hal-hal menarik dari suatu buku, kemudian cobalah mencari inspirasi untuk merangkai berbagi ide tadi menjadi sebuah karya tulisan Anda.
3. Carilah, bergaullah intensif dengan orang-orang yang haus ilmu pengetahuan, gila baca, dan penulis giat. Kurangi bergaul yang membawa madharat kepada Anda.
4. Kurangi kontak dengan hal-hal “pengalih” kebiasaan membaca seperti yang saya sampaikan dia atas.
5. Bentuklah peradaban keluarga “Generasi Tukang Baca dan Penulis, carilah pasangan hidup yang mampu membawa kebaikan dalam kehidupan.
Mari Saudaraku, Kita bawa keluarga dan saudara kita dalam kemashlahatan dengan membiasakan diri seperti yang diteladankan Rasulullah, hendaknya nalar dan logika Kita harus selalu sadar bahaya-bahaya jangka lama yang sudah disiapkan oleh musuh. Agar kita tak menjadi umat yang merugi dan terpecah belah, karena janji Allah itu pasti benar.
MARI BERKARYA MARI MEMBACA MARI BERGIAT MENULIS^^
SEMANGAT DAN SALAM UNTUK SAUDARAKU YANG GILA BACA DAN GIAT MENULIS
SEMOGA ALLAH SELAU MENGUMPULKAN KITA DALAM LANGKAH KEBAIKAN^^
Ya Allah
Tuhan Pemilik Ilmu Pengetahuan
Bimbinglah, tetpkanlah, kuatkanlah hati dan akal kami dalam langkah kebaikan dan mashlahat
Hindarkan, jauhkan kami dari kemadharatan.
Semoga perintah-Mu agar kami menjadi umat pembelajar selalu ada dalam jiwa kami
Aaamiin
==========================================================================
Tulisan karya saya, silahkan menyebarkan kepada yang lain jika bermanfaat.
@teguhleader
TeguhRevolutioner© , Revolusikan diri ke arah lebih baik!!!
*Artikel ini dapat pula saudara muslim/ah lihat di website saya teguh-be-leader.blogspot.com
Kurenungi Kehidupanku yang Lalu... Untuk Kehidupan di Masa Mendatang... Untuk Menjadi Berarti, dimulai menjadi Tidak Berarti
Selasa, 24 Januari 2012
Minggu, 15 Januari 2012
Kuatkah "Sinyal" Anda?
Bismillah….
Bumi Allah Pondok Betung, Ahad 15 Januari 2012
Allahu Akbar, bagimana kabar iman, hati serta jasmani antum/na?
Semoga masih dalam lingkupan cinta Allah Sang Pemilik Cinta^^
Beberapa dekade minggu ini saya lama tidak memosting note-note saya. Semoga maklum, karena jasmani yang belum menyesuaian dengan “rutinitas” baru sehingga memaksakan hati ntuk men-“delayed”.
Saya ingin mengingatkan Saudara betapa cepat waktu bergulir dari 1432 H sekarang telah berada di 1433 H. Serta msehi yang mulai menginjak di 2012. Sudahkah di tahun baru tersebut Saudara sekalian mengevaluasi kualitas diri? Jika belum, BERSEGERALAH.
Kapan???
Ya Sekarang! Sejak Anda membaca tulisan saya ini.^^
Di kesempatan dari Allah kali ini, saya akan mencoba mengajak Saudara “membongkar” hati. Tentang bagaimana kualitas antenna ‘hati’ kita menangkap pesan kamashlahatan dan kemudharatan di area kita berada.
Jika kita mendengar “antenna” apa yang ada dalam bayangan kita? Beragam, mulai dari terbayang teve, hape, ataupun sebuah perangkat yang dapat di-“panjangkan” dan di-“pendekkan”.^^
Ya, antenna merupakan alat penangkap serta pemancar sinyal ke udara. Apa kaitan antenna dengan hati kita? Kira-kira hati (lengkapnya dengan akal) kita adalah antenna tersebut. Akal merupakan pengendali sistem organ, dan hati adalah pemberi pertimbangan.
Di sekitar kita banyak sekali “sinyal” yang mencoba masuk diri kita, dan otak pun menerima semua itu. Hanya hati yang mampu me-scan nya apakah layak untuk kita terima dan diaplikasikan bagi kehidupan kita. Hanya antenna ‘otak’ yang kuat yang mampu menangkap semua sinyal. Serta hanya antenna ‘hati’ yang sensitif yang mampu memblokir sinyal-sinyal tidak jelas dan berkualitas rendah.
Sebagimana fitrahnya manusia, tentu ingin memasukkan dalam tubuhnya adalah segala sesuatu yang baik. Nah, hanya dengan “antenna” yang berkualitas lah yang mampu melakukan kerja baik dan maksimal.
Pertanyaannya, bagaimana kualitas antenna Saudara?
Apakah menangkap semua “sinyal” dan langsung mengaplikasikannya dalam diri Anda? Itu namanya zero (nol). Anda menerima pesan kebaikan dan keburukan, dan anda mengerjakan untuk kehidupan Anda kesemuanya.
Ataukah menangkap “sinyal” yang terputus-putus tidak jelas? Itu artinya danger (bahaya). Karena hati anda menerima pesan yang tidak jelas, dan tak mau tahu kebenarannya. Akhirnya yang halal menjadi haram, haram menjadi halal.
Atau mungkin antenna anda justru menerima semua sinyal dengan peka, namun karena hati error, yang diaplikasikan hanya sinyal buruk saja. Ini merupakan keadaan fatal. Karena hati kaku, rusak tidak mau menerima sinyal kebaikan di sekitarnya.
Dan terakhir, apa antenna Saudara menangkap semua sinyal. Menyaringnya dan mengambil sinyal yang bagus dan teratur (benar). Bahkan mengirimnya juga untuk antenna receiver lainnya. Inilah antenna yang berkualitas dan dalam keadaan excellent (sempurna).
Nah, bagaimana keadaan antenna Anda sekarang? Hanya anda lah yang tahu. Dan hanya Anda sendiri lah “montir” nya. Jadilah montir yang berpengalaman, jikatidak mampu, BELAJAR-LAH untuk menjadi montir yang handal. Kuatkan antenna anda dan perbaiki kualitas sistem saringnya. Jangan biarkan ia melewatkan sinyal kebaikan dan justru malah menerima sinyal keburukan.
Memang, sering kita tak sadar bahwa Allah menunjukkan semua jalan kebaikan kita. Memberikan kesempatan untuk berbuat baik, serta menguji kita agar ingat untuk berbuat baik. Namun, kerena kemalasan, keangkuhan, serta kebodohan kita akhirnya banyak perbuatan baik dan bermanfaat untuk kehidupan akhirat kelak yang terlewatkan, terabaikan.
So. Dari sekarang lah kita harus mengubah pemikiran dan hati kita. Bagaimana caranya?
1. LAKUKAN KEBAIKAN SEGERA.
2. TENAGAI KEBAIKAN ANDA DENGAN CINTA.
3. HIDUPKAN SADAR DAN MALU PADA DIRI KITA.
4. BERGAULLAH DENGAN ORANG YANG BER-“ANTENA” BERKUALITAS.
5. IMBANGI BELAJAR ILMU DUNIA KITA DENGAN ILMU AGAMA YANG BENAR.
Akhir pesan, saya berdoa semoga Anda yang membaca note saya ini berantena bagus. Apa tandanya? Yaitu segera berubah menjadi lebih baik dengan 5 prinsip diatas serta membaginya kepada yang lain.
PERUBAHAN YANG SEGERA.^^
AllahuAkbar PERKUAT ANTENA KITA!!!
Ya Allah, jadikanlah kami golongan orang yang peduli pada umat dan agama-Mu ini Ya Robb
Teguhkan kami dalam langkah kebenaran
aamiin.
Salam ma’ruf!!!^^
Mari saling berbagi^^
Mari saling berbagi^^
=====================================================================================
Tulisan karya saya, silahkan menyebarkan kepada yang lain jika bermanfaat.
@teguhleader
TeguhRevolutioner© , Revolusikan diri ke arah lebih baik!!!
*Artikel ini dapat pula saudara muslim/ah lihat di akun saya FB: Teguh Setyawan
Selasa, 10 Januari 2012
SEGITIGA CINTA
Ane rasa artikel ini bagus banget untuk jadi bahan renungan setiap orang....
Apa pun status Anda saat ini.... menikah, cerai, belum menikah, ingin menikah, pacaran menuju pernikahan, dalam perselingkuhan, dan apa pun itu deh....
Segitiga Cinta
Ada banyak alasan orang untuk menikah. Ada yang bilang bahwa pasangannya enak diajak bicara. Ada yang bilang pasangannya sangat perhatian. Ada yang bilang merasa aman dekat dengan pasangannya. Ada yang bilang pasangannya macho atau sexy. Ada yang bilang pasangannya pandai melucu. Ada yang bilang pasangannya pandai memasak. Ada yang bilang pasangannya pandai menyenangkan orang tua. Pendek kata kebanyakan orang bilang dia COCOK dengan pasangannya.
Ada banyak alasan pula untuk bercerai. Ada yang bilang pasangannya judes, bila diajak bicara cenderung emosional. Ada yang bilang pasangannya sangat memperhatikan pekerjaannya saja, lupa kepada orang-orang di rumah yang setia menunggu. Ada yang bilang pasangannya sangat pendiam, tidak dapat bertindak cepat dalam situasi darurat, sehingga merasa kurang terlindungi.
Ada yang bilang pasangannya kurang menggairahkan.
Ada yang bilang pasangannya gak nyambung kalau bicara. Ada yang bilang masakan pasangannya terlalu asing atau terlalu manis. Ada yang bilang pasangannya tidak dapat mengambil hati mertuanya. Pendek kata kebanyakan orang bilang bahwa dia TIDAK COCOK LAGI dengan pasangannya.
Kebanyakan orang sebetulnya menikah dalam ketidakcocokan. Bukan dalam kecocokan. Dr. Paul Gunadi menyebut kecocokan-kecocokan diatas sebagai sebuah ilusi pernikahan. Dua orang yang pada waktu pacaran merasa cocok tidak akan serta merta berubah menjadi tidak cocok setelah mereka menikah.
Ada hal-hal yang hilang setelah mereka menikah, yang sebelumnya mereka pertahankan benar-benar selama pacaran. Sebagai contoh, pada waktu pacaran dua sejoli akan saling memperhatikan, saling mendahulukan satu dengan yang lain, saling menghargai, saling mencintai. Lalu apa yang dapat menjadi pengikat yang mampu terus mempertahankan sebuah pernikahan, bila kecocokan-kecocokan itu tidak ada lagi? Jawabannya adalah KOMITMEN.
Seorang kawan saya di Surabaya membuat sebuah penelitian, perilaku selingkuh kaum adam pada waktu mereka dinas luar kota dan jauh dari anak /isterinya. Apa yang membuat pria-pria tersebut selingkuh tidak perlu dijabarkan lagi. Tetapi apa yang membuat pria-pria tersebut bertahan untuk tidak selingkuh? Jawaban dari penelitian tersebut sama dengan diatas yaitu : KOMITMEN.
Hanya komitmen yang kuat mampu menahan gelombang godaan dunia modern pada waktu seorang pria berada jauh dari keluarganya.
Begitu pula sebaliknya, pada kasus wanita yang berselingkuh.
Komitmen adalah sebagian dari cinta dalam definisi seorang psikolog kenamaan bernama Sternberg. Dia menyebutnya sebagai "triangular love" atau segitiga cinta dimana ketiga sudutnya berisi : Intimacy (keintiman), Passion (gairah) dan Commitment (komitmen). Sebuah cinta yang lengkap dalam sebuah rumah tangga selayaknya memiliki ketiga hal diatas.
Intimacy atau keintiman adalah perasaan dekat, enak, nyaman, ada ikatan satu dengan yang lainnya.
Passion atau gairah adalah perasaan romantis, ketertarikan secara fisik dan seksual dan berbagai macam perasaan hangat antar pasangan.
Commitment atau komitmen adalah sebuat keputusan final bahwa seseorang akan mencintai pasangannya dan akan terus memelihara cinta tersebut "until death do us apart".
Itulah segitiga cinta karya Sternberg yang cukup masuk akal untuk dipelihara dalam kehidupan rumah tangga. Bila sebuah relasi kehilangan salah satu atau lebih dari 3 unsur diatas, maka relasi itu tidak dapat dikatakan sebagai cinta yang lengkap dalam konteks hubungan suami dan isteri, melainkan akan menjadi bentuk-bentuk cinta yang berbeda.
Sebagai contoh :
Bila sebuah relasi hanya berisi intimacy dan commitment saja, maka relasi seperti ini biasa disebut sebagai persahabatan.
Bila sebuah relasi hanya bersisi passion dan intimacy saja tanpa commitment, maka ia biasa disebut sebagai kumpul kebo.
Bila sebuah relasi hanya mengandung passion saja tanpa intimacy dan commitment, maka ia biasa disebut sebagai infatuation (tergila-gila) .
Nah, bagaimana bentuk cinta anda... ???
*HANYA ANDA YANG BISA MENJAWAB*
get from: "Mutiara Sebening Embun" dengan penambahan seperlunya
@teguhleader
Apa pun status Anda saat ini.... menikah, cerai, belum menikah, ingin menikah, pacaran menuju pernikahan, dalam perselingkuhan, dan apa pun itu deh....
Segitiga Cinta
Ada banyak alasan orang untuk menikah. Ada yang bilang bahwa pasangannya enak diajak bicara. Ada yang bilang pasangannya sangat perhatian. Ada yang bilang merasa aman dekat dengan pasangannya. Ada yang bilang pasangannya macho atau sexy. Ada yang bilang pasangannya pandai melucu. Ada yang bilang pasangannya pandai memasak. Ada yang bilang pasangannya pandai menyenangkan orang tua. Pendek kata kebanyakan orang bilang dia COCOK dengan pasangannya.
Ada banyak alasan pula untuk bercerai. Ada yang bilang pasangannya judes, bila diajak bicara cenderung emosional. Ada yang bilang pasangannya sangat memperhatikan pekerjaannya saja, lupa kepada orang-orang di rumah yang setia menunggu. Ada yang bilang pasangannya sangat pendiam, tidak dapat bertindak cepat dalam situasi darurat, sehingga merasa kurang terlindungi.
Ada yang bilang pasangannya kurang menggairahkan.
Ada yang bilang pasangannya gak nyambung kalau bicara. Ada yang bilang masakan pasangannya terlalu asing atau terlalu manis. Ada yang bilang pasangannya tidak dapat mengambil hati mertuanya. Pendek kata kebanyakan orang bilang bahwa dia TIDAK COCOK LAGI dengan pasangannya.
Kebanyakan orang sebetulnya menikah dalam ketidakcocokan. Bukan dalam kecocokan. Dr. Paul Gunadi menyebut kecocokan-kecocokan diatas sebagai sebuah ilusi pernikahan. Dua orang yang pada waktu pacaran merasa cocok tidak akan serta merta berubah menjadi tidak cocok setelah mereka menikah.
Ada hal-hal yang hilang setelah mereka menikah, yang sebelumnya mereka pertahankan benar-benar selama pacaran. Sebagai contoh, pada waktu pacaran dua sejoli akan saling memperhatikan, saling mendahulukan satu dengan yang lain, saling menghargai, saling mencintai. Lalu apa yang dapat menjadi pengikat yang mampu terus mempertahankan sebuah pernikahan, bila kecocokan-kecocokan itu tidak ada lagi? Jawabannya adalah KOMITMEN.
Seorang kawan saya di Surabaya membuat sebuah penelitian, perilaku selingkuh kaum adam pada waktu mereka dinas luar kota dan jauh dari anak /isterinya. Apa yang membuat pria-pria tersebut selingkuh tidak perlu dijabarkan lagi. Tetapi apa yang membuat pria-pria tersebut bertahan untuk tidak selingkuh? Jawaban dari penelitian tersebut sama dengan diatas yaitu : KOMITMEN.
Hanya komitmen yang kuat mampu menahan gelombang godaan dunia modern pada waktu seorang pria berada jauh dari keluarganya.
Begitu pula sebaliknya, pada kasus wanita yang berselingkuh.
Komitmen adalah sebagian dari cinta dalam definisi seorang psikolog kenamaan bernama Sternberg. Dia menyebutnya sebagai "triangular love" atau segitiga cinta dimana ketiga sudutnya berisi : Intimacy (keintiman), Passion (gairah) dan Commitment (komitmen). Sebuah cinta yang lengkap dalam sebuah rumah tangga selayaknya memiliki ketiga hal diatas.
Intimacy atau keintiman adalah perasaan dekat, enak, nyaman, ada ikatan satu dengan yang lainnya.
Passion atau gairah adalah perasaan romantis, ketertarikan secara fisik dan seksual dan berbagai macam perasaan hangat antar pasangan.
Commitment atau komitmen adalah sebuat keputusan final bahwa seseorang akan mencintai pasangannya dan akan terus memelihara cinta tersebut "until death do us apart".
Itulah segitiga cinta karya Sternberg yang cukup masuk akal untuk dipelihara dalam kehidupan rumah tangga. Bila sebuah relasi kehilangan salah satu atau lebih dari 3 unsur diatas, maka relasi itu tidak dapat dikatakan sebagai cinta yang lengkap dalam konteks hubungan suami dan isteri, melainkan akan menjadi bentuk-bentuk cinta yang berbeda.
Sebagai contoh :
Bila sebuah relasi hanya berisi intimacy dan commitment saja, maka relasi seperti ini biasa disebut sebagai persahabatan.
Bila sebuah relasi hanya bersisi passion dan intimacy saja tanpa commitment, maka ia biasa disebut sebagai kumpul kebo.
Bila sebuah relasi hanya mengandung passion saja tanpa intimacy dan commitment, maka ia biasa disebut sebagai infatuation (tergila-gila) .
Nah, bagaimana bentuk cinta anda... ???
*HANYA ANDA YANG BISA MENJAWAB*
get from: "Mutiara Sebening Embun" dengan penambahan seperlunya
@teguhleader
Sabtu, 12 November 2011
MAKNA IDHUL ADHA BAGI KEHIDUPAN
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan sembelihlah hewan . Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yangg terputus (dari Rahmat Allah”).[TQS.AL KAUTSAR(108):1-3]
Pondok Betung, 6 November 2011 Masehi
10 Dzu Al Hijjah 1433 Hijriyah
Afwan sangat telat Saudara-saudara untuk “meluncurkan” note ini. Karena adanya kepentingan yang perlu perhatian khusus. Bagaimana Idhul Qurban Antum/na kemarin? Ada makna yang didapatkah? Ataukah hanya sekedar lewat aja kayak daging kurban yang melewati perut kita?
Kali ini ingin sekali hati ini berbagi tentang NIAT HIDUP BAGI MANUSIA. Manusia hidup di dunia pasti akan menjalankan peran mereka masing-masing. Ada yang menjalankan peran seorang “pemburu” dunia. Ada yang berperan “pemburu”akhirat. Dan ‘’pemburu-pemburu” lainnya. Niatan itulah yang membedakan kualitas kita di mata Allah. Kualitas di mata manusia dan Allah tentu berbeda. Ada sebuah kisah yang sangat mengesankan bagi hati kita, akan saya ceritakan sedikit.
Alkisah ada seorang sahabat yang meninggal malam-malam (afwan Ana lupa nama beliau). Rasulullah yang belum mengetahuinya ternyata dibangunkan Oleh Malaikat Jibril dan meminta agar jenazah disolatkan dan dikuburkan malam itu juga. Rasulullah bertanya kenapa begitu tergesa-gesa, apalagi dimalam yang dingin banyak sahabat lain yang sulit untuk dihubungi. Apa jawab Malaikat Jibril, “Tidak Ya Rasulullah, karena sudah menunggu sepuluh malaikat yang sebelumnya tidak pernah turun ke bumi, berdiri di depan pintumu hanya untuk menyolatkannya.”
Rasulullah terperanjat, beliau bangkit dan menanyakan apa amalan dari sahabat tersebut hingga membuat sepuluh malaikat yang tak pernah turun ke bumi itu berkenan di malam yang dingin untuk hadir menyolatkan. Jawab Malaikat Jibril, “Karena dia HIDUP UNTUK ALLAH.”
Subhanallah, maukah kita merasakan nikmat seperti itu??^^
Hiduplah untuk Allah, wahai Sahabatku!!
Hiduplah untuk yang Maha Hidup, karena Dia-lah Sang Pencipta, Pengatur dan Pemilik kehidupan ini.
Banyak dari kita hidup untuk “yang lain”. Hidup untuk urusan hal di dunia, yang membuat kita mengesampingkan urusan kita kepada Allah. Sungguh dzalim yang sangat nyata yang seharusnya kita hindari.
Hidup untuk Allah artinya menyerahkan, meniatkan dan mengutamakan Allah dalam segala langkah hidup kita. Tak gampang memang, namun itulah ujian kehidupan yang sering kita hadapi, yaitu dilema antara pilihan mengutamakan keselamatan kehidupan dunia kita atau kehidupan akhirat kita. Contoh nyata adalah ketika anda dituntut bekerja melewati waktu solat, mana yang anda utamakan? Melanjutkan pekerjaan ataukah berhenti agar segera mengawalkan solat?
Dilema bukan anda untuk memutuskannya? Namun sebuah kisah inspiratif begitu sangat dicontohkan oleh beliau Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS. Bagaimana beliau diuji Allah agar menyembelih putra pertama dan kesayangannya tersebut. Beliau begitu tegar dan sabar menerima dan menjalankan wahyu dari Allah tersebut. Hingga akhirnya Allah menggantikan rasa cinta Nabi Ibrahim yang begitu besar kepada Allah dengan menggantikan seekor domba untuk disembelih.
Kelulusan Nabi Ibrahim tidak hanya dalam melaksanakan perintah Allah tetapi juga dalam kebijaksanaannya menyampaikan perintah itu kepada anaknya yang sangat dicintainya. Beliau tidak langsung mengambilnya tiba-tiba dan tidak pula mencari kelengahan atau dengan taktik intimidasi. Meskipun Ibrahim memiliki kekuatan yang banyak tetapi beliau tidak menggunakan kekuatan agar anaknya bertekuk lutut di hadapannya. Perintah Allah disampaikannya dengan transparan penuh argumentasi Ilahiah.
Sedangkan Nabi Ismail anak yang patuh dan mengerti kedudukan orang tuanya dan posisinya sebagai anak ia tidak membangkang dan tidak bimbang. Nabi Ismail memberikan jawaban yang memancarkan keimanan tawaddu dan tawakkal kepada Allah bukan untuk menonjolkan kepahlawanan atau kegagahan mencari popularitas. Ia tidak melakukan unjuk rasa yang konfrontatif tanpa mengindahkan akhlakul karimah atau dengan kekerasan untuk memprotes kehendak bapaknya.
Sungguh dua tokoh bapak dan anak ini merupakan uswah hasanah bagi umat manusia. Sebuah teladan betapa utamanya mengutamakan cinta kepada Allah, ikhlas dan tulus kepada Allah. Dan uswah syariat. Syariat yang diwahyukan kepada Nabi Ibrahim, bahkan syariat Nabi Muhammad SAW merupakan syariat yg dulunya telah diwahyukan Allah kepada Ibrahim. Maka kita menyembelih hewan qurban di hari Idhul Adha ini termasuk meneladani sunnah Ibrahim sebagaimana sabda Nabi SAW, Sunnatu abikum Ibrahim.
Hidup untuk Allah, sebuah prinsip yang seharusnya ada dalam sanubari setiap muslim. Hidup hanya untuk Sang Pencipta, mengutamakan Allah di atas apapun. SEperti Nabi Ibrahim yang lebih memilih menjalankan perintah Allah walaupun perintah itu adalah menyembelih anaknya sendiri (padahal seperti yang kita tahu, Nabi Ismail adalah putra pertamanya. Namun cinta kepada Allah yang tulus dan kuat dalam dada beliau tak gentar walaupun setan menggoda. Akhirnya apa balasan dari Allah wahai Saudara muslim? Akhirnya Allah menggantikan ketulusan Nabi Ibrahim dengan cinta-Nya yang Agung, yaitu tidak jadi menyembelih Nabi Ismail, justru digantikan dengan seekor domba yang gemuk.
Hingga saat ini lah syariat menyembelih hewan kurban dilaksanakan, untuk mengenang “pengorbanan”, pengorbanan apa? Yaitu pengorbanan Nabi Ibrahim untuk memilih Allah daripada menyelamatkan kenikmatan dunianya. Subhanallah, jadi begitulah makna kurban atau Idhul Adha sebenarnya.
Makna bahwa kita harus mengutamakan cinta kepada Allah dibandingkan cinta kepada dunia, HIDUP UNTUK ALLAH.
SUDAHKAH ANDA MEMERIKSA DIRI, HATI, DAN IMAN ANDA??
TANYAKAN, SUDAHKAH AKU HIDUP UNTUK ALLAH DALAM SETIAP LANGKAHKU???
Mari selalu mengoreksi diri kita dan orang lain, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Jangan takut atau enggan menyampaikan kebaikan kepada orang lain hanya karena kita belum melaksanakannya, INGAT Saudaraku!
HIDAYAH ALLAH DAPAT HADIR SETIAP WAKTU, MAKA PERCEPATLAH AGAR HIDAYAH ITU SEGERA DATANG!!!^^
Ya Allah, himpunkanlah kami ke dalam golongan yang ingat kepada-Mu
Selalu dalam agama dan syariat yang telah Engkau tunjukkan
Aamiin
Maaf, Ane telat lagi me-upload catatan saya, karena ada beberapa hal yang membuat menunda, semoga bermanfaat bagi Saudara-saudara.
Mari saling menginspirasi!!!^^
TeguhRevolutioner®
@teguhleader
Note ASLI KARYA SAYA
Selasa, 01 November 2011
Tenagai dengan Cinta
Bismillah….
Wadassari III, 28 Oktober 2011
Semangat hidup Saudaraku?
Bagaimana kabar Antum/na? Semoga masih dalam lingkupan cinta Allah Sang Pemilik Cinta^^
Beberapa hari kemarin saya begitu terhenyak melihat sebuah pemandangan. Pemandangan yang menyadarkan hati saya. Apa yang menarik?
Seorang bapak-bapak yang tampak lusuh penampilannya. Tangannya membawa sebilah tongkat kayu dengan pengait kayu di ujungnya. Di panggulnya dengan kedua punggung kekarnya sebuah karung tempat barang-barang “berharga” yang ia ambil. Tentu kita semua tahu kan kira-kira profesi bapak ini apa. Hinakah di mata Saudara-saudara?
Namun kali ini saya tidak akan memancing nurani teman-teman untuk peduli pada si Bapak tadi. Namun ingin mengajak nurani teman-teman untuk merenung, merenungi “sesuatu” hal. Sesuatu yang membuat bapak tadi bertahan dengan pekerjaannya. Yang membuat nya semangat dan tak pernah merasa capek dan malu.
Bagaimana seseorang mampu bertahan berjam-jam tanpa lelah? Apa pula rahasia para nelayan hingga “tega” meninggalkan anak istri menantang ombak dan badai? Apa trik kuli bangunan bekerja hingga berjam-jam di bawah terik matahari?
Kekuatan apa yang membuat mereka kuat fisik dan tahan mentalnya?
Analisis saya akhirnya berakhir pada “SEMANGAT”, ternyata masih belum puas nurani dengan jawaban SEMANGAT, karena semangat muncul karena sebab. AKhirnya ku temukan bahwa jawaban itu adalah “CINTA”. Ya, “Kekuatan Cinta” (the power of love). Cinta yang melahirkan harapan dan pengabdian bagi apapun yang dicintainya. Kepada Allah yang selalu mencintainya, kepada keluarga nun jauh di sana,kepada masyarakat banyak yang membutuhkan karya mereka, kepada alam yang “mengasuh” mereka, kepada bayangan masa depan hidup sejahtera, ataupun kepada hati tempat cinta itu mengalir. Hehe
Tenagai!
Berikan tenaga cinta dalam aktifitas kita. Allah menciptakan makhluk pun karena cinta. Sudah seyogyanya kita pun melakukan sesuatu atas dasar cinta. Jika kita jeli, ketika kita menonton film Harry Potter betapa kekuatan cinta dari ibunya mampu melindungi Harry dari kekuatan jahat Voldemort. Saya jadi teringat bagaimana teman saya begitu kuatnya semalam tidak tidur karena mau ujian esoknya. Kira-kira cinta apa yang memberikan tenaga padanya? Mungkin atas dasar cinta pada dirinya, dia merasa sayang jika dirinya hanya dihargai dengan nilai empat atau di bawahnya. Subhanallah…
Rasanya tak ada yang tak mungkin jika kita maksimal menyuplai tenaga cinta pada aktifitas kita. Tengoklah bagaimana gigihnya seorang lelaki yang berusaha mendapatkan wanita idaman hatinya, bagaimana gigihnya dia memutar otak (melebihi dia sewaktu menghafal Quran), bagimana gigihnya dia memeras tenaga agar dapat bertemu (melebihi kekuatan dirinya untuk sholat berjamaah).
Keren kan kekuatan cinta??? Tak cukup diuraikan di sini untuk membeberkan cerita-ceritanya.hehe
So, bila kita berkeluh kesah hanya karena beratnya tugas, betapa lamanya ujian yang kita hadapi, dan betapa berat rasanya menjalani amanah dalam kehidupan. Maka, berikanlah tenaga!
Tenagailah Saudara-Saudara!!!
Tenagailah dengan cinta, semua yang sulit akan mudah, yang berat akan terasa ikhlas, yang buntu solusinya akan terbuka idenya karena cinta akan melahirkan sifat gigih dan konsisten serta kreatif.
Sebuah pesan penutup, “Mari tenagai aktifitas kita dengan cinta, dasarilah dengan cinta, cinta akan melahirkan keikhlasan, keikhlasan akan melahirkan kegigihan, kegigihan akan membawa pada solusi dari setiap maslah yang menghadang.”
Salam ma’ruf!!!^^
Mari saling menjaga persaudaraan dengan cinta yang benar^^
Menyitir puisi…
Cinta pertamaku padamu Ya Allah..
Cinta keduaku padamu Ya Rasulullah..
Cinta ketiga ku padamu Ya Abi wa Umi..
Cinta terakhirku padamu Ya....Ukhti/Akhi….
Hehe…
Salam Cinta!!!
=====================================================================================
Karena ada suatu hal, kami mohon maaf minggu ini telat meluncurkan note, insyaallah minggu berikutnya akan konsisten kami luncurkan note-note berikutnya. Terimakasih selalu setia membaca, dan semoga dapat saling menginspirasi sesama.
@teguhleader
TeguhRevolutioner© , Revolusikan diri ke arah lebih baik!!!
*Artikel ASLI karya saya
Selasa, 18 Oktober 2011
INDAHNYA MENIKMATI MASALAH
Kompleks Meteo Dephub, 18 Oktober 2011
Pondok Betung, Tangerang Selatan
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati,
padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang
yang beriman. (QS.Ali 'Imraan:139)
Bagaimana kabar antum/na? Semoga Allah senantiasa merahmati dan memberi nikmat kesehatan dan kesempatan kepada kita. Sehingga Saudara sekalian dapat menyempatkan diri dan hati “mampir” membaca note saya di akun facebook ataupun blog saya.
Sebelumnya saya minta maaf, hampir tiga minggu lamanya saya tidak mengunggah catatan saya. Karena ada aktifitas di sekolah, OSPEK/MADABINTAL. Banyak pembelajaran positif di sana, insyaallah akan saya uraikan kata jiwa saya tentang hikmah-hikmah di sana nanti secara berseri pada note-note berikutnya.
Kali ini saya akan menguraikan sedikit uneg-uneg saya, bertemakan tentang bagaimana menikmati dan berteman dengan masalah. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.
Saudaraku sekalian, seringkali kita merasa beban yang sedang kita alami adalah sangat berat, bahkan paling berat diantara beban yang dimiliki oleh orang lain. Orang memiliki kecenderungan suka menceritakan beban, kesulitan, atau masalahnya kepada orang sembari
meyakinkan ataupun menampakkan orang lain bahwa bebannya yang paling berat. Menurut anda, Apa itu membantu?
Menceritakan beban kepada orang terdekat atau yang terpercaya mungkin akan meringankan, tetapi kalau ke banyak orang justru malah tidak baik. Dari pada bercerita ke sana ke mari tentang beban kita, mengapa tidak bercerita dan mengadu kepada Allah SWT saja kah???
Adakah rasa malu, saat kita menghadapi kesulitan, kita bersedih dan langsung bersikap lemah? Kita hanya diam, menyerah, dan berbicara mengeluarkan berbagai alasan-alasan mengapa kita menyerah. Kita menyalahkan orang lain, lingkungan, atau kondisi di sekitar kita. Alasan-alasan ini menurut saya justru menampakkan bukti kelemahan kita, bukti bahwa kita tidak kuat menghadapi berbagai masalah yang muncul.
Saudara muslim/ah, ingatlah bahwa Allah melarang kita bersikap lemah dan bersedih. Kita harus tetap tegar sekokoh batu karang dan tidak bersedih atas segala kesulitan dan beban yang
menghimpit. Hapuslah air mata, bangunlah dari tidurmu. Bangkitlah, karena kita sesungguhnya kuat untuk menghadapi berbagai cobaan yang menerpa kita.
Bersikap lemah dan larut dalam kesedihan tidak akan memberikan solusi bagi kita. Berharap belas kasihan? Tidak menjamin lebih baik, malah bisa saja kita ditertawakan oleh orang lain. Kesedihan justru akan memadamkan api energi dalam tubuh kita untuk bertindak dan berkarya. Bukankah diam ini justru akan membuat masalah berlarut-larut? Ya kan?
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia
mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa
(dari kejahatan) yang dikerjakannya. (TQS. AL BAQOROH[2]:286)
Ayat ini memberikan kekuatan kepada kita untuk lebih percaya diri dalam
menjalani hidup ini. Kita percaya, bahwa diri kita sudah diberikan kekuatan untuk
menghadapi masalah bagaimana pun beratnya menurut ukuran kita. Kita juga
yakin, bahwa Allah tidak akan memberikan beban yang melebih kemampuan
kita.
Justru, saat kita mendapatkan masalah yang berat, sangat berat, bahkan paling
berat dibanding masalah yang dihadapi orang, ini menunjukan bahwa kita
memang memiliki kemampuan yang lebih. Sebuah ilustrasi mudahnya, seorang anak SD tentu hanya akan diberikan soal ujian untuk SD, sementara seorang mahasiswa akan mehadapi
ujian untuk tingkat perguruan tinggi. Harusnya kita malu, jika kita menyerah
dengan ujian yang kita hadapi. Jangan-jangan, ujian yang diberikan adalah untuk
level SD, sementara orang lain menghadapi ujian level perguruan tinggi dan
mereka mampu menghadapinya.
Saya merumuskan tiga resep menghadapi masalah yang saya koarkan selalu di hadapan rekan-rekan OSPEK saya kemarin, HADAPI, HAYATI, NIKMATI.
HADAPI, masalah tak kan kunjung ada solusi jika kita hanya berdiam diri, jadi…hadapilah dengan keyakinan dan strategi yang mantap. HAYATI, tak ada yang berlalu sia-sia di dunia ini, bahkan tindak buruk sekalipun. Cerdas dan pekalah, hayati segala yang menghadang kita. Adakah maksud tersembunyi dari Allah? Kita harus mampu untuk menangkap maksud Allah. NIKMATI, rasakan dan nikmatilah ketika menghadapi masalah. Jangan tegangkan pikiran, namun tenanglah dan bijak.
Masalah tidak akan selesai hanya dengan ditangisi, kita harus kuat dan bertindak mengatasi masalah tersebut. Bukannya diam lemah sambil bersedih hati yang justru akan menambah kesemasan demi kecemasan dalam diri kita. Langkah kita akan gamang, tak jelas arah, dan ujung-ujungnya kita malah tidak akan peduli lagi dengan apa yang akan terjadi, menyerah dan pasrah. Bangkitlah kawan, hapus air matamu, dan kuatkan dirimu.
SEGERA ACTION KAN LANGKAHMU!!!^^
JANGAN HANYA BERDIAM DIRI, BERSEMANGATLAH KAWAN!!!^^
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat
sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan
kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami
memikulnya.
*Terkadang saya malu untuk menyampaikan risalah-risalah ini semua karena diri saya yang masih banyak kurang, salah dan belum bisa sempurna melaksanakan kebaikan.Namun bagi saya itu tak menjadi halangan untuk saling menginspirasi. Karena Rasul mengajarkan untuk saling mengingatkan dan menasihati. Maka dari itu saya mohon maaf jika keburukan itu tampak di depan saudara sekalian. MARI MENGINSPIRASI^^
*artikel karya saya ASLI, penambahan info dari berbagai sumber.
Langganan:
Postingan (Atom)