Selasa, 01 Mei 2012

Pemuda Revolusioner (serial "Komunikasikan Ide Anda" part 1)


Bumi Allah, Wadassari III
Pondokbetung, Tangerang Selatan, Banten

Bismillahirrohmanirrohim…

Sekumpulan pemuda tampak duduk duduk melingkar sedang membahas sesuatu yang penting. Di tempat lain tampak segerombolan pemuda lusuh berjalan gontai tanpa tujuan di tepi jalan, tampak tiada gairah hidup di mata dan langkah mereka. Pemuda adalah tonggak penerus estafet kepemimpinan suatu bangsa.

Semua perubahan  yang ada di Indonesia ini ternyata diawali oleh pemuda. Dari awal kebangkitan nasional 1908 ternyata dirintis oleh para pemuda berusia 20- 23 tahun.
Subhanallah, kalau tidak salah ingat sewaktu Sumpah Pemuda bahkan W.R. Supratman berusia 21 tahun (waooww..). Yang meminta kemerdekaan dipercepat juga pemuda, sebelumnya Bung Karno dkk (dikenal golongan tua) akan memproklamirkan tanggal 22. Namun pemuda menghendaki agar beliau segera memproklamirkan hingga akhirnya berujung peristiwa “penculikan” ke Rengasdengklok.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berani dan kreatif dalam keterbatasan. Selama periode penjajahan pihak asing itulah bangsa kita ditempa mental dan pemikirannya untuk berpikir lebih revolusioner. Generasi pemuda Indonesia sudah tak sepatutnya manja dan hidup dalam kegalauan menjalani kehidupan. Track record sebagai bangsa yang mampu meraih kemerdekaan sendiri dengan susah payah dan menyatukan beragam suku dan beribu pulau dari Sabang sampai Merauke, Miangas sampai pulau Rote adalah sebuah motivasi yang seharusnya menjadi etos tersendiri bagi generasi pemuda Indonesia.

Jika di-generalisir, kehidupan pemuda sekarang tampaknya jauh dari apa yang dielu-elukan. “Pemuda sebagai revolusi kebaikan, pemuda sebagai tulang punggung majunya bangsa.” Tampaknya hanya menjadi sekedar jargon motivasi saja ketika di panggung. Sedikit dan kecil sekali terealisir. Hal ini tak lain karena kita terlalu lama “ngepos” di ruang pemanjaan, dan tak mau berpindah ke medan perjuangan yang notabene tak nyaman penuh derita. Ngepos di ruang keacuhan dan ruang individualism, ngepos di lorong kegalauan dan tersesat oleh nikmat semu dunia.

Bangun Pemuda!

Go Workout!!! Segera action dan jangan berteori serta beranalisis saja. Keadaan Indonesia seperti yang kita lihat sekarang ini karena kita banyak analisis tanpa aksi nyata. Mengutip pendapat Pak Bob Sadino kelebihan orang bodoh dibandingkan pintar adalah kalau orang bodoh itu segera melaksanakan apa yang ada dalam pikirannya tanpa banyak pertimbangan, baginya adalah terus mencoba. Sedangkan orang pintar, terlalu banyak analisis akhirnya tanpa tindakan bahkan tidak bertindak apapun. (barangkali karena banget pintarnya).

Manfaatkan masa mudamu sebelum masa tuamu!

Masa muda adalah masa yang tepat untuk menemukan peran kita. Peran kita untuk dunia, dan jati diri kita untuk akhirat. Kemuliaan bagi seseorang yang mampu membawa dirinya kepada aktifitas positif nan membangun. Keberuntungan bagi generasi yang mampu menjaga dirinya di usia muda untuk kehidupan di senja.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS Al-Hujurot: 13)

Sebuah dilema ketika ternyata suatu bangsa tidak mengetahui yang terbaik untuk mereka. Dan menurut saya ini yang sedang terjadi di Indonesia. Ambil contoh saja menonton sinetron. Masyarakat agaknya lebih menyukai membawa diri mereka ke dalam suasana yang happy tanpa berusaha, solusi dengan keajaiban. Sehingga mental yang terbentuk adalah mental nriman dalam bahasa jawa yang artinya apa adanya. Mental nriman tak mau usaha dan berinovasi diperburuk dengan mental ngathong yang artinya hanya membuka tangan ke atas alias meminta saja. Semua itu kebanyakan mewarnai alur cerita sineas-sineas di Indonesia.

Mental seperti itu perlu dirubah, namanya mental tak semudah mengajari anak kecil berhitung. Pendidikan mental adalah perpaduan dari emosional, spiritual baru ditambah dengan intelektual. Hanya generasi yang mampu dan mau berubah haluan dari zona nyaman saja yang mempunyai kesadaran ini. Mereka sadar tentang pentingnya berubah lebih baik dan membawa manfaat bagi yang lain.

Bushido!

Dalam kurun waktu dua dekade semenjak Perang Asia Pasifik ternyata Jepang mampu bangkit kembali menjadi negara yang terpanadang dan tidak terbelakang. Kemudian muncul sebagai negara maju di Asia Timur yang berpengaruh bagi perekonomian dunia. Dan menurut saya ada satu hal yang diakui dunia mengenai sebab kemajuan Jepang meskipun kita tahu Jepang adalah daerah yang minim Sumber Daya Alam (SDA) nya serat sering diterpa topan dan gempa bumi. Satu hal tersebut adalah karakter dan mentalitas masyarakatnya yang unik yang dikenal dengan bushido. Bushido adalahsebuah sistem etika yang dianut oleh kelompok samurai yang menguasai negara tersebut di abad 11 hingga 18. Mental bushido ini adalah kejujuran, tanggungjawab, kesetiaan, disiplin, keberanian, hormat dan pantang menyerah. 

Tampaknya kita generasi muda Indonesia perlu mangkaji dan mengaplikasikan bushido dalam jiwa dan sikap kita sehari-hari. Sudah saatnya yang muda yang membangun, bukan sekedar muda saja namun juga bermental samurai. Yang muda bermental ksatria-lah yang memimpin dan membangun. Saudara-saudaraku pemuda yang muda, ayo tempa mentalmu. Kumpulkan dan pungut ilmu hingga ke ujung dunia manapun. Suarakan idemu, wujudkan dengan aksi, lengkapi dengan mental ksatria. Hanya yang ksatria yang pantas memimpin.

Komunikasikan ide cerdas kita!

Ada sebuah langkah yang cukup cerdas dan bijak bagi kita adalah dengan mengkomunikasikan pesan kebaikan dengan segala peran yang kita jalani sekarang. Apapun peran anda sekarang, sampaikan dengan ketulusan dan beretika. Energi positif yang kita tebarkan Insyaallah akan mampu membawa perubahan positif sedikit demi sedikit.

Bagimana mengkomunikasikan yang efektif dan beretika?

(Bersambung….)

TeguhRevolutioner corp. mengajak semua elemen untuk menebarkan energi positif yang beretika. Mari kita wujudkan masyarakat yang bermental positif.

SalamRevolusioner!

Semangat Akurat!^^

Karya ASLI saya, dapat Anda lihat di note akun facebook saya Teguh Setyawan (Al Kazim)

Sabtu, 25 Februari 2012

BERGURU PADA MASALAH

“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” [TQS AL-HUUD(11): 9]

Batavia, 23th February 2012

Asyhaduala Illaa ha Illallah…Wa asyhaduana Muhammadan wa Rosullah…

Bagaimana kabar antum/na ? Semoga Allah memberi rahmat untuk melangkahkan kursor computer Anda ke arah mashlahatan, seperti mengarahkan untuk membaca, menyelami dan merenungi note  Ane berikut ini.^^

Di kesempatan kali ini, Ane ingin berbagi sedikit tentang sesuatu yang kita harap-harap tidak hadir dalam momen-momen hidup kita.

Mari sejenak kita merefleksikan diri…

Coba renungkan, apa yang kita lakukan jika muncul masalah dalam hidup ini? Katakan saja kita sedang sakit, kita langsung berusaha beribu cara agar penyakit itu segera hilang. Sedang didera tekanan orang lain, langsung “tembak”. Sedang ada hama di rumah, semprot insektisida. Sedang stress, telan obat kimia. Pokoknya segera tuntaskan dari penderitaan deh. Hehe.

Ketika melihat cara seperti ini, gagasan menyingkirkan hal-hal yang tidak kita sukai ‘hal yang tidak menyamankan’ bukanlah jalan kedamaian, ketenangan, dan pandangan cerah. Bagaimana jalan yang tenang tersebut? Sebuah pesan yang saya pegang, “Ketenangan erat dengan kebijaksanaan, dan kebijaksanaan adalah bersikap dan berfikir tenang, positif dan waspada.” Hadapilah dengan kebijaksanaan. Seorang biksu mengatakan, “Apa pun yang mengganggumu, jangan coba memusnahkan, tapi belajarlah darinya.”

Lantas apa saya harus berdiam diri “menikmati” derita yang saya alami Tadz?

“Tidak!”, berdiam diri bukanlah solusi segala masalah, berdiam diri menurut saya adalah solusi sementara, solusi sementara bagi “solusi utama” untuk menyelesaikan masalah kita. Namun dengan berdiam diri setidaknya ada yang berubah saat itu, yaitu penderitaan batin lenyap. Lenyap karena kita berusaha untuk menerimanya.

Jangan menjadikan masalah sebagai penghalang berjalannya kehidupan indah kita, “masalah datang untuk menjadi guru bagi kita.” Menjadi bijak terhadap masalah bukanlah hal yang sulit dan bukanlah hal yang mudah semudah kita menghitung 1+1=2. Trus bagaimana? Kebijaksanaan erat kaitannya dengan akal dan hati, moral dan rasional. Sehingga dibutuhkan jiwa yang besar dan hati yang lapang, semua perlu latihan, dan saya yakin semua orang dapat menjadikan dan membawa dirinya menjadi pribadi yang bijak termasuk Anda, PERCAYALAH!!!^^

Berikut saya tuliskan beberapa langkah yang dapat melatih kita menjadi bijak, barangkali hasil perenungan dan pengalaman saya ini dapat menjadi manfaat bagi Anda semua.^^

SENYUM!

Senyum akan membuat semua lebih baik, senyum menghadirkan pikiran positif yang merupakan tenaga terbesar ketika kita terpuruk. Ketika Anda sedang dihadapkan pada hal yang menyulitkan, tenangkan diri, sabar, dan tersenyumlah.^^ Bahkan menurut saya, senyum adalah bentuk dari sabar yang baik.

“Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” [TQS AL-MA’ARIJ(77): 5]

Kata seorang bijak, “Jika hidupmu sulit, jangan pernah kamu tinggalkan untuk memberikan sukacita dan kesenangan dalam hidup Anda. Jika Anda bisa menaruh senyum di dalamnya, hidup akan lebih baik.”

SELAMI MASALAH!

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk peringatan (pelajaran), maka adakah orang yang mengambil pelajaran? [TQS AL-Qomar(54): 35, 22, 32, 40]

Allah telah memberikan solusi terhadap segala hal dalam dunia ini, BERPIKIR, ya dengan berpikir, merenung Kita akan mengetahui segala pertanyaan ‘masalah’ dalam hidup kita. Jika Anda jeli, Allah telah mengulang-ulang firman-Nya pada surat Al Qomar diatas.

Menyelami masalah adalah dengan membawa diri kita ke arah pusat masalah. Kita temui pusatnya kita cari penyebabnya, kita cari tahu apa sebenarnya masalah itu. Inilah pentingnya menyelami masalah karena masalah adalah bagian dari hidup kita, kita tidak menginginkan masalah namun masalah datang juga. Ini menunjukkan kepada kita bagaimana kita menjadi rendah hati, dan bekerja sama dengan kehidupan ketimbang selalu berupaya mengendalikan kehidupan.

Orang-orang menderita terhadap rasa sakit, masalah, karena mereka tidak paham bahwa mereka tidak selalu bisa pegang kendali terhadap segala akibat dan ketentuan. Semakin cepat kita memahami ini, semakin cepat kita berdamai, berdamai dengan masalah kita.

Kita sering menghadapi kenyataan masalah pelik dalam hidup kita. Kenyataan yang sudah terjadi ataupun berlangsung dan tidak mungkin untuk merubah kembali menjadi nyaman kembali. Tak patut kita sebagai manusia yang percaya dengan ke-Maha Dahsyatan kekuatan Allah lantas meratapi dan menghinakan diri sejadi-jadinya. Kita  masih mampu melakukan sesuatu terhadap reaksi kita, batin kita, bagaimana kita menanggapinya secara emosional dan spiritual. Di bagian inilah kita memiliki kendali penuh, kendali untuk melepasnya, membiarkan pergi dan berada dalam kedamaian bahkan meski dalam duka yang luar biasa, kekecewaan besar, atau apapun. Dan inilah menurut saya kepiawaian seorang bijak yang bisa kita praktikkan.

Banyak momen kehidupan kita yang menyakitkan (entah itu akibat dari diri kita ataupun takdir, silakan membaca pula catatan saya “Musibah yang Menimpa, Azab atau Ujian”-http//teguh-be leader.blogspot.com) yang dapat menjadi “pembelajar” bagi diri kita, belajar bagaimana kita menanggung kesukaran dan derita dalam hidup. Dan percayalah, semua akan menjadikan indah diri Anda sahabatku.^^

Sahabat muslim, kontrol emosi Antum ketika dalam kondisi yang sempit dan sulit. Percayalah pertolongan Allah ada dimana-mana. Hadirkanlah pertolongan itu. Bagaimana caranya Tadz? Caranya  dengan membersihkan jiwa kita dan bawalah simpati Allah ke setiap tindakan Anda, tindakan baik.^^ Ingatlah, bahwa semakin kita cemas dan tegang dalam menghadapi kesulitan dan derita hidup, makin bertambah hebat pula deritanya. Ketika kita benar-benar rileks dan melepas, masalah pun akan sirna. Insyaallah, bi idznillah^^

Dengan dua langkah tadi semoga menambah khazanah Antum bagaimana membijakkan diri dalam hidup. Ingatlah, Ibu saya sering berpesan, “Nak, kedewasaan seseorang tidak diukur dari fisik dan usia. Namun dari bagaimana dia menguasai ilmu, emosi dan kepribadiannya. Bahkan seorang anak bisa saja lebih dewasa dari orangtuanya.”

SIAP MEMBIJAKKAN DIRI?
SIAPKAN DIRI ANDA!!!

Mari bijakkan diri, sukseskan gerakan MENJADI BIJAK USIA MUDA^^

Jadilah diri Anda saudaraku, bergaullah dan contohlah orang-orang yang baik. Bawa dirimu kearah kebaikan, karena semua tindakan ada akibatnya.

Mari saling mengingatkan, mengingatkan dalam kebaikan dan beretika!!!^^

SALAM MA’RUF!!! SALAM SEMANGAT AKURAT!!!^^

Ya Allah Tuhan Maha Pemberi Petunjuk
Hadirkanlah petunjuk-Mu kepada kami yang sesat dalam masalah
Berikanlah cahaya ilmu-Mu yang agung dan hindarkanlah kami dari maksiat dan dosa penutup kebaikan dan tirai gelap bagi hadirnya ilmu-Mu
Ya Allah Tuhanku, kami berserah diri atas segala usaha kami
Semoga Engkau ridho dengan amal kami, menjadi amal ibadah kepada-Mu Ya Robb
Aamiin


Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. [TQS AN-NAHL(16): 90]

*Terkadang saya malu untuk menyampaikan risalah-risalah ini semua karena diri saya yang masih banyak kurang, salah dan belum bisa sempurna melaksanakan kebaikan.Namun bagi saya itu tak menjadi halangan untuk saling menginspirasi. Karena Rasul mengajarkan untuk saling mengingatkan dan menasihati. Maka dari itu saya mohon maaf jika keburukan itu tampak di depan saudara sekalian. MARI MENGINSPIRASI^^

@teguhleader

*artikel karya saya ini dapat anda lihat pula di website: http://www.teguh-be-leader.blogspot.com

"TeguhRevolutioner", semangat berevolusi untuk lebih baik dan peduli.

Selasa, 24 Januari 2012

Gila Baca Giat Tulis Andakah ?

Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten

Tsalasa, 1 Rabiulawal 1433 H/24 Januari 2012

AllahuAkbar, Maha Besar Allah Tuhan Penguasa Waktu.

Yang telah memberikan saya waktu untuk berbagi uneg-uneg dengan Antum/na.

Di kesempatan ini saya ingin menyampaikan sebuah pesan tokoh sastra kenamaan di Indonesia, Bapak Taufik Ismail. Kira-kira pesan apa yang membuat tangan saya tergerak untuk menekan keyboard laptop saya ini ya?^^

Semoga bermanfaat, dan tak lupa saya ingin menyampaikan agar Antum/na berbagi dengan saudara lainnya jika memang bermanfaat.

Ada sebuah pertanyaan sebelum masuk lebih ke dalam, “Siapa yang mempunyai hobi membaca?, Siapa yang membiasakan membaca buku setiap hari dengan rutin? Siapa yang dalam waktu sepekan terhitung Anda membaca note saya ini telah “menghabiskan” sebuah buku? Sudahkah Saudaraku sekalian sampai detik ini  telah membuat sebuah buku yang layak dipublikasikan? Pernahkah Anda mengikuti lomba tulis menulis?”

Silahkan jawab dalam hati, mengapa saya melontarkan pertanyaan itu? Sekedar menyadarkan Saudara sekalian betapa sangat minim kita sekarang ini menyempatkan untuk menulis dan membaca buku. Di tengah teknologi yang semakin maju, kegiatan membaca tampaknya semakin sepi peminat, meskipun canggihnya teknologi itu sebanding dengan kualitas model bahan bacaan, namun tampaknya tak mampu mendongkrak minat masyarakat untuk membaca. Tak jauh, menulis pun bahkan semakin “terpinggirkan” dari daftar hobi masyarakat sekarang. Nilai-nilai masyarakat yang membiasakan diri ingin hidup cepat, instan, dan mudah semakin menurunkan minat membaca terutama dari kalangan pemuda dan anak-anak sebagaimana yang kita tahu merekalah pemegang tongkat estafet semua lini di masa depan.

Dalam sebuah seminar Bapak Taufik Ismail menyampaikan sebuah pesan yang cukup memukul telak sadar kita. Kalau tidak salah Beliau mengatakan seperti ini, “Anak sekarang sangat minim minat membaca buku dan menulis. Bahkan duduk di bangku sekolah dari SD sampai SMA hanya mampu membuat dua karangan, apa itu? “CITA-CITAKU dan LIBURAN KE RUMAH NENEK.”
Bagaimana Saudaraku, apakah Antum/na sama dengan yang dikatakan Pak Ismail? Hanya berkarya dua biji itu saja. Pertanyaannya, Bagaimana Anda akan berwawasan luas dan matang emosional dan pikiran jika membaca dan menulis menjadi “aktifitas sampingan” saja?

Membaca merupakan perintah pertama Allah kepada Rasulullah, betapa esensial sekali jika kita renungkan. Banyak seminar dan kajian yang saya hadiri selalu mengingatkan agar menggemarkan diri untuk menulis dan membaca. Karena kita sadari atau tidak, “musuh” kita akan merusak mental pikiran dan ideologi kita dengan teknologi dan instanisasi.

Suguhan teknologi yang kian menggiurkan untuk dinikmati adalah salah satu penyebab kemalasan kita dalam membaca dan menulis, pemuda sekarang lebih sering kita lihat memegang piranti canggihnya disbanding membawa catatan dan buku-buku tebal. Dari laptop, PDA, handphone, tablet dan lainnya yang saya belum tau perkembangan terakhirnya lebih sering dipegang masyarakat era sekarang, bahkan bagi anak muda, handphone adalah pegangan dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan tidur pun dibawa. Hehe.

Memang alat-alat canggih tersebut memfasilitasi kita untuk dapat membaca berbagai sumber ilmu dengan mudah dan portable. Namun coba tanyakan pada diri Anda, “Berapa kali Anda membuka file-file pelajaran ataupun e-book tentang suatu ilmu dalam seminggu?” , tak perlu diragukan pasti banyak yang menjawab “Tidak pernah.” Jangankan membuka, melihat foldernya saja tidak pernah. Seolah file tersebut hanya menjadi pengisi harddisk yang kosong. Sekarang, “Situs apa yang sering anda kunjungi ketika berselancar via jaringan internet? Jawaban yang banyak adalah TWITTER, FACEBOOK, KASKUS, ataupun situs lain yang memang saya kurang familiar. Bahkan membuka situs google.com pun kalau ada tugas dari guru, dosen saja kan? Anda sendiri yang berhak menjawab.^^."Pengalih-pengalih” tersebut memang sengaja dikemas dalam bentuk yang menarik dan tak membosankan. Membuat kita terhanyut dan candu dengannya, sulit jika kita sudah terbiasa dengannya.

Sebagai sebuah refrensi untuk hati dan pikiran kita, kebiasaan menonton televisi akan membuat otak kita semakin pasif. Karena ketika kita membaca, otak kita juga akan membayangkan dan berpikir kira-kira gambaran dari kalimat itu apa, dan hal ini tidak kita dapat dalam teve karena teve sudah memvisualisasikan apa yang kit abaca dan dengar. Alat-alat canggih di atas tadi adalah sekumpulan piranti elektronik, dan piranti tersebut mengeluarkan radiasi, pancaran gelombang yang kurang bagus untuk tubuh kita. (Sampai-sampai Bapak saya pasti ngomel kalau Saya ketahuan tidur membawa hape).:D

Bayangkan betapa banyak madharat yang kita dapatkan dan tak kita sadari, mungkin masih banyak penelitian yang menunjukkan bahayanya bagi mental dan pikiran kita yang tidak dapat Saya paparkan.
Sahabat, mari kita renungkan apa sih sulitnya menyempatkan waktu untuk membaca? Mari kita perbaiki dan awali peradaban baru. Peradaban “Generasi Tukang Baca dan Penulis”. Meminjam tips Ustadz saya dulu, kata beliau jika kita malas membaca Quran, paksalah bahkan satu ayat pun setiap harinya tidak apa. Saya kira cara ini dapat kita pakai untuk membuat diri kita kembali pada “jiwa baca” kita:
1.    Biasakan membaca bacaan sehari satu lembar atau satu bab. Tentunya bacaan yang bermanfaat.
2.    Mulailah menulis hal-hal menarik dari suatu buku, kemudian cobalah mencari inspirasi untuk merangkai berbagi ide tadi menjadi sebuah karya tulisan Anda.
3.    Carilah, bergaullah intensif dengan orang-orang yang haus ilmu pengetahuan, gila baca, dan penulis giat. Kurangi bergaul yang membawa madharat kepada Anda.
4.    Kurangi kontak dengan hal-hal “pengalih” kebiasaan membaca seperti yang saya sampaikan dia atas.
5.    Bentuklah peradaban keluarga “Generasi Tukang Baca dan Penulis, carilah pasangan hidup yang mampu membawa kebaikan dalam kehidupan.

Mari Saudaraku, Kita bawa keluarga dan saudara kita dalam kemashlahatan dengan membiasakan diri seperti yang diteladankan Rasulullah, hendaknya nalar dan logika Kita harus selalu sadar bahaya-bahaya jangka lama yang sudah disiapkan oleh musuh. Agar kita tak menjadi umat yang merugi dan terpecah belah, karena janji Allah itu pasti benar.

MARI BERKARYA MARI MEMBACA MARI BERGIAT MENULIS^^
SEMANGAT DAN SALAM UNTUK SAUDARAKU YANG GILA BACA DAN GIAT MENULIS
SEMOGA ALLAH SELAU MENGUMPULKAN KITA DALAM LANGKAH KEBAIKAN^^

Ya Allah
Tuhan Pemilik Ilmu Pengetahuan
Bimbinglah, tetpkanlah, kuatkanlah hati dan akal kami dalam langkah kebaikan dan mashlahat
Hindarkan, jauhkan kami dari kemadharatan.
Semoga perintah-Mu agar kami menjadi umat pembelajar selalu ada dalam jiwa kami
Aaamiin

==========================================================================
Tulisan karya saya, silahkan menyebarkan kepada yang lain jika bermanfaat.

@teguhleader

TeguhRevolutioner© , Revolusikan diri ke arah lebih baik!!!

*Artikel ini dapat pula saudara muslim/ah lihat di website saya teguh-be-leader.blogspot.com

Minggu, 15 Januari 2012

Kuatkah "Sinyal" Anda?


Bismillah….

Bumi Allah Pondok Betung, Ahad 15 Januari 2012

Allahu Akbar, bagimana kabar iman, hati serta jasmani antum/na?

Semoga masih dalam lingkupan cinta Allah Sang Pemilik Cinta^^

Beberapa dekade minggu ini saya lama tidak memosting note-note saya. Semoga maklum, karena jasmani yang belum menyesuaian dengan “rutinitas” baru sehingga memaksakan hati ntuk men-“delayed”.

Saya ingin mengingatkan Saudara betapa cepat waktu bergulir dari 1432 H sekarang telah berada di 1433 H. Serta msehi yang mulai menginjak di 2012. Sudahkah di tahun baru tersebut Saudara sekalian mengevaluasi kualitas diri? Jika belum, BERSEGERALAH. 

Kapan???

Ya Sekarang! Sejak Anda membaca tulisan saya ini.^^

Di kesempatan dari Allah kali ini, saya akan mencoba mengajak Saudara “membongkar” hati. Tentang bagaimana kualitas antenna ‘hati’ kita menangkap pesan kamashlahatan dan kemudharatan di area kita berada.

Jika kita mendengar “antenna” apa yang ada dalam bayangan kita? Beragam, mulai dari terbayang teve, hape, ataupun sebuah perangkat yang dapat di-“panjangkan” dan di-“pendekkan”.^^

Ya, antenna merupakan alat penangkap serta pemancar sinyal ke udara. Apa kaitan antenna dengan hati kita? Kira-kira hati (lengkapnya dengan akal) kita adalah antenna tersebut. Akal merupakan pengendali sistem organ, dan hati adalah pemberi pertimbangan.

Di sekitar kita banyak sekali “sinyal” yang mencoba masuk diri kita, dan otak pun menerima semua itu. Hanya hati yang mampu me-scan nya apakah layak untuk kita terima dan diaplikasikan bagi kehidupan kita. Hanya antenna ‘otak’ yang kuat yang mampu menangkap semua sinyal. Serta hanya antenna ‘hati’ yang sensitif yang mampu memblokir sinyal-sinyal tidak jelas dan berkualitas rendah.

Sebagimana fitrahnya manusia, tentu ingin memasukkan dalam tubuhnya adalah segala sesuatu yang baik. Nah, hanya dengan “antenna” yang berkualitas lah yang mampu melakukan kerja baik dan maksimal.
Pertanyaannya, bagaimana kualitas antenna Saudara?

Apakah menangkap semua “sinyal” dan langsung mengaplikasikannya dalam diri Anda? Itu namanya zero (nol). Anda menerima pesan kebaikan dan keburukan, dan anda mengerjakan untuk kehidupan Anda kesemuanya.

Ataukah menangkap “sinyal” yang terputus-putus tidak jelas? Itu artinya danger (bahaya). Karena hati anda menerima pesan yang tidak jelas, dan tak mau tahu kebenarannya. Akhirnya yang halal menjadi haram, haram menjadi halal.

Atau mungkin antenna anda justru menerima semua sinyal dengan peka, namun karena hati error, yang diaplikasikan hanya sinyal buruk saja. Ini merupakan keadaan fatal. Karena hati kaku, rusak tidak mau menerima sinyal kebaikan di sekitarnya.

Dan terakhir, apa antenna Saudara menangkap semua sinyal. Menyaringnya dan mengambil sinyal yang bagus dan teratur (benar). Bahkan mengirimnya juga untuk antenna receiver lainnya. Inilah antenna yang berkualitas dan dalam keadaan excellent (sempurna). 

Nah, bagaimana keadaan antenna Anda sekarang? Hanya anda lah yang tahu. Dan hanya Anda sendiri lah “montir” nya. Jadilah montir yang berpengalaman, jikatidak mampu, BELAJAR-LAH untuk menjadi montir yang handal. Kuatkan antenna anda dan perbaiki kualitas sistem saringnya. Jangan biarkan ia melewatkan sinyal kebaikan dan justru malah menerima sinyal keburukan.

Memang, sering kita tak sadar bahwa Allah menunjukkan semua jalan kebaikan kita. Memberikan kesempatan untuk berbuat baik, serta menguji kita agar ingat untuk berbuat baik. Namun, kerena kemalasan, keangkuhan, serta kebodohan kita akhirnya banyak perbuatan baik dan bermanfaat untuk kehidupan akhirat kelak yang terlewatkan, terabaikan.

So. Dari sekarang lah kita harus mengubah pemikiran dan hati kita. Bagaimana caranya?

1.       LAKUKAN KEBAIKAN SEGERA.
2.       TENAGAI KEBAIKAN ANDA DENGAN CINTA.
3.       HIDUPKAN SADAR DAN MALU PADA DIRI KITA.
4.       BERGAULLAH DENGAN ORANG YANG BER-“ANTENA” BERKUALITAS.
5.       IMBANGI BELAJAR ILMU DUNIA KITA DENGAN ILMU AGAMA YANG BENAR.

Akhir pesan, saya berdoa semoga Anda yang membaca note saya ini berantena bagus. Apa tandanya? Yaitu segera berubah menjadi lebih baik dengan 5 prinsip diatas serta membaginya kepada yang lain.
 PERUBAHAN YANG SEGERA.^^

AllahuAkbar PERKUAT ANTENA KITA!!!

Ya Allah, jadikanlah kami golongan orang yang peduli pada umat dan agama-Mu ini Ya Robb
Teguhkan kami dalam langkah kebenaran
aamiin.

Salam ma’ruf!!!^^
Mari saling berbagi^^
=====================================================================================
Tulisan karya saya, silahkan menyebarkan kepada yang lain jika bermanfaat.
@teguhleader
TeguhRevolutioner© , Revolusikan diri ke arah lebih baik!!!
*Artikel ini dapat pula saudara muslim/ah lihat di akun saya FB: Teguh Setyawan





Selasa, 10 Januari 2012

SEGITIGA CINTA

Ane rasa artikel ini bagus banget untuk jadi bahan renungan setiap orang....
Apa pun status Anda saat ini.... menikah, cerai, belum menikah, ingin menikah, pacaran menuju pernikahan, dalam perselingkuhan, dan apa pun itu deh....

Segitiga Cinta
Ada banyak alasan orang untuk menikah. Ada yang bilang bahwa pasangannya enak diajak bicara. Ada yang bilang pasangannya sangat perhatian. Ada yang bilang merasa aman dekat dengan pasangannya. Ada yang bilang pasangannya macho atau sexy. Ada yang bilang pasangannya pandai melucu. Ada yang bilang pasangannya pandai memasak. Ada yang bilang pasangannya pandai menyenangkan orang tua. Pendek kata kebanyakan orang bilang dia COCOK dengan pasangannya.

Ada banyak alasan pula untuk bercerai. Ada yang bilang pasangannya judes, bila diajak bicara cenderung emosional. Ada yang bilang pasangannya sangat memperhatikan pekerjaannya saja, lupa kepada orang-orang di rumah yang setia menunggu. Ada yang bilang pasangannya sangat pendiam, tidak dapat bertindak cepat dalam situasi darurat, sehingga merasa kurang terlindungi.
Ada yang bilang pasangannya kurang menggairahkan.
Ada yang bilang pasangannya gak nyambung kalau bicara. Ada yang bilang masakan pasangannya terlalu asing atau terlalu manis. Ada yang bilang pasangannya tidak dapat mengambil hati mertuanya. Pendek kata kebanyakan orang bilang bahwa dia TIDAK COCOK LAGI dengan pasangannya.

Kebanyakan orang sebetulnya menikah dalam ketidakcocokan. Bukan dalam kecocokan. Dr. Paul Gunadi menyebut kecocokan-kecocokan diatas sebagai sebuah ilusi pernikahan. Dua orang yang pada waktu pacaran merasa cocok tidak akan serta merta berubah menjadi tidak cocok setelah mereka menikah.

Ada hal-hal yang hilang setelah mereka menikah, yang sebelumnya mereka pertahankan benar-benar selama pacaran. Sebagai contoh, pada waktu pacaran dua sejoli akan saling memperhatikan, saling mendahulukan satu dengan yang lain, saling menghargai, saling mencintai. Lalu apa yang dapat menjadi pengikat yang mampu terus mempertahankan sebuah pernikahan, bila kecocokan-kecocokan itu tidak ada lagi? Jawabannya adalah KOMITMEN.
Seorang kawan saya di Surabaya membuat sebuah penelitian, perilaku selingkuh kaum adam pada waktu mereka dinas luar kota dan jauh dari anak /isterinya. Apa yang membuat pria-pria tersebut selingkuh tidak perlu dijabarkan lagi. Tetapi apa yang membuat pria-pria tersebut bertahan untuk tidak selingkuh? Jawaban dari penelitian tersebut sama dengan diatas yaitu : KOMITMEN.

Hanya komitmen yang kuat mampu menahan gelombang godaan dunia modern pada waktu seorang pria berada jauh dari keluarganya.
Begitu pula sebaliknya, pada kasus wanita yang berselingkuh.

Komitmen adalah sebagian dari cinta dalam definisi seorang psikolog kenamaan bernama Sternberg. Dia menyebutnya sebagai "triangular love" atau segitiga cinta dimana ketiga sudutnya berisi : Intimacy (keintiman), Passion (gairah) dan Commitment (komitmen). Sebuah cinta yang lengkap dalam sebuah rumah tangga selayaknya memiliki ketiga hal diatas.

Intimacy atau keintiman adalah perasaan dekat, enak, nyaman, ada ikatan satu dengan yang lainnya.

Passion atau gairah adalah perasaan romantis, ketertarikan secara fisik dan seksual dan berbagai macam perasaan hangat antar pasangan.

Commitment atau komitmen adalah sebuat keputusan final bahwa seseorang akan mencintai pasangannya dan akan terus memelihara cinta tersebut "until death do us apart".

Itulah segitiga cinta karya Sternberg yang cukup masuk akal untuk dipelihara dalam kehidupan rumah tangga. Bila sebuah relasi kehilangan salah satu atau lebih dari 3 unsur diatas, maka relasi itu tidak dapat dikatakan sebagai cinta yang lengkap dalam konteks hubungan suami dan isteri, melainkan akan menjadi bentuk-bentuk cinta yang berbeda.

Sebagai contoh :

Bila sebuah relasi hanya berisi intimacy dan commitment saja, maka relasi seperti ini biasa disebut sebagai persahabatan.

Bila sebuah relasi hanya bersisi passion dan intimacy saja tanpa commitment, maka ia biasa disebut sebagai kumpul kebo.

Bila sebuah relasi hanya mengandung passion saja tanpa intimacy dan commitment, maka ia biasa disebut sebagai infatuation (tergila-gila) .

Nah, bagaimana bentuk cinta anda... ???
*HANYA ANDA YANG BISA MENJAWAB*

get from: "Mutiara Sebening Embun" dengan penambahan seperlunya

@teguhleader

Sabtu, 12 November 2011

MAKNA IDHUL ADHA BAGI KEHIDUPAN


“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan sembelihlah hewan . Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yangg terputus (dari Rahmat Allah”).[TQS.AL KAUTSAR(108):1-3]

Pondok Betung, 6 November 2011 Masehi
10 Dzu Al Hijjah 1433 Hijriyah

Afwan sangat telat Saudara-saudara untuk “meluncurkan” note ini. Karena adanya kepentingan yang perlu perhatian khusus. Bagaimana Idhul Qurban Antum/na kemarin? Ada makna yang didapatkah? Ataukah hanya sekedar lewat aja kayak daging kurban yang melewati perut kita?

 Kali ini ingin sekali hati ini berbagi tentang NIAT HIDUP BAGI MANUSIA. Manusia hidup di dunia pasti akan menjalankan peran mereka masing-masing. Ada yang menjalankan peran seorang “pemburu” dunia. Ada yang berperan “pemburu”akhirat. Dan ‘’pemburu-pemburu” lainnya. Niatan itulah yang membedakan kualitas kita di mata Allah. Kualitas di mata manusia dan Allah tentu berbeda. Ada sebuah kisah yang sangat mengesankan bagi hati kita, akan saya ceritakan sedikit.

Alkisah ada seorang sahabat yang meninggal malam-malam (afwan Ana lupa nama beliau). Rasulullah yang belum mengetahuinya ternyata dibangunkan Oleh Malaikat Jibril dan meminta agar jenazah disolatkan dan dikuburkan malam itu juga. Rasulullah bertanya kenapa begitu tergesa-gesa, apalagi dimalam yang dingin banyak sahabat lain yang sulit untuk dihubungi. Apa jawab Malaikat Jibril, “Tidak Ya Rasulullah, karena sudah menunggu sepuluh malaikat yang sebelumnya tidak pernah turun ke bumi, berdiri di depan pintumu hanya untuk menyolatkannya.”

Rasulullah terperanjat, beliau bangkit dan menanyakan apa amalan dari sahabat tersebut hingga membuat sepuluh malaikat yang tak pernah turun ke bumi itu berkenan di malam yang dingin untuk hadir menyolatkan. Jawab Malaikat Jibril, “Karena dia HIDUP UNTUK ALLAH.

Subhanallah, maukah kita merasakan nikmat seperti itu??^^

Hiduplah untuk Allah, wahai Sahabatku!!

Hiduplah untuk yang Maha Hidup, karena Dia-lah Sang Pencipta, Pengatur dan Pemilik kehidupan ini.
Banyak dari kita hidup untuk “yang lain”. Hidup untuk urusan hal di dunia, yang membuat kita mengesampingkan urusan kita kepada Allah. Sungguh dzalim yang sangat nyata yang seharusnya kita hindari.
Hidup untuk Allah artinya menyerahkan, meniatkan dan mengutamakan Allah dalam segala langkah hidup kita. Tak gampang memang, namun itulah ujian kehidupan yang sering kita hadapi, yaitu dilema antara pilihan mengutamakan keselamatan kehidupan dunia kita atau kehidupan akhirat kita. Contoh nyata adalah ketika anda dituntut bekerja melewati waktu solat, mana yang anda utamakan? Melanjutkan pekerjaan ataukah berhenti agar segera mengawalkan solat?

Dilema bukan anda untuk memutuskannya? Namun sebuah kisah inspiratif begitu sangat dicontohkan oleh beliau Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS. Bagaimana beliau diuji Allah agar menyembelih putra pertama dan kesayangannya tersebut. Beliau begitu tegar dan sabar menerima dan menjalankan wahyu dari Allah tersebut. Hingga akhirnya Allah menggantikan rasa cinta Nabi Ibrahim yang begitu besar kepada Allah dengan menggantikan seekor domba untuk disembelih.

Kelulusan Nabi Ibrahim tidak hanya dalam melaksanakan perintah Allah tetapi juga dalam kebijaksanaannya menyampaikan perintah itu kepada anaknya yang sangat dicintainya. Beliau tidak langsung mengambilnya tiba-tiba dan tidak pula mencari kelengahan atau dengan taktik intimidasi. Meskipun Ibrahim memiliki kekuatan yang banyak tetapi beliau tidak menggunakan kekuatan agar anaknya bertekuk lutut di hadapannya. Perintah Allah disampaikannya dengan transparan penuh argumentasi Ilahiah.
Sedangkan Nabi Ismail anak yang patuh dan mengerti kedudukan orang tuanya dan posisinya sebagai anak ia tidak membangkang dan tidak bimbang. Nabi Ismail memberikan jawaban yang memancarkan keimanan tawaddu dan tawakkal kepada Allah bukan untuk menonjolkan kepahlawanan atau kegagahan mencari popularitas. Ia tidak melakukan unjuk rasa yang konfrontatif tanpa mengindahkan akhlakul karimah atau dengan kekerasan untuk memprotes kehendak bapaknya. 

Sungguh dua tokoh bapak dan anak ini merupakan uswah hasanah bagi umat manusia. Sebuah teladan betapa utamanya mengutamakan cinta kepada Allah, ikhlas dan tulus kepada Allah. Dan uswah syariat. Syariat yang diwahyukan kepada Nabi Ibrahim, bahkan syariat Nabi Muhammad SAW merupakan syariat yg dulunya telah diwahyukan Allah kepada Ibrahim. Maka kita menyembelih hewan qurban di hari Idhul Adha ini termasuk meneladani sunnah Ibrahim sebagaimana sabda Nabi SAW, Sunnatu abikum Ibrahim.
 
Hidup untuk Allah, sebuah prinsip yang seharusnya ada dalam sanubari setiap muslim. Hidup hanya untuk Sang Pencipta, mengutamakan Allah di atas apapun. SEperti Nabi Ibrahim yang lebih memilih menjalankan perintah Allah walaupun perintah itu adalah menyembelih anaknya sendiri (padahal seperti yang kita tahu, Nabi Ismail adalah putra pertamanya. Namun cinta kepada Allah yang tulus dan kuat dalam dada beliau tak gentar walaupun setan menggoda. Akhirnya apa balasan dari Allah wahai Saudara muslim? Akhirnya Allah menggantikan ketulusan Nabi Ibrahim dengan cinta-Nya yang Agung, yaitu tidak jadi menyembelih Nabi Ismail, justru digantikan dengan seekor domba yang gemuk.

Hingga saat ini lah syariat menyembelih hewan kurban dilaksanakan, untuk mengenang “pengorbanan”, pengorbanan apa? Yaitu pengorbanan Nabi Ibrahim untuk memilih Allah daripada menyelamatkan kenikmatan dunianya. Subhanallah, jadi begitulah makna kurban atau Idhul Adha sebenarnya.

Makna bahwa kita harus mengutamakan cinta kepada Allah dibandingkan cinta kepada dunia, HIDUP UNTUK ALLAH.

SUDAHKAH ANDA MEMERIKSA DIRI, HATI, DAN IMAN ANDA??
TANYAKAN, SUDAHKAH AKU HIDUP UNTUK ALLAH DALAM SETIAP LANGKAHKU???

Mari selalu mengoreksi diri kita dan orang lain, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Jangan takut atau enggan menyampaikan kebaikan kepada orang lain hanya karena kita belum melaksanakannya, INGAT Saudaraku!
HIDAYAH ALLAH DAPAT HADIR SETIAP WAKTU, MAKA PERCEPATLAH AGAR HIDAYAH ITU SEGERA DATANG!!!^^

Ya Allah, himpunkanlah kami ke dalam golongan yang ingat kepada-Mu
Selalu dalam agama dan syariat yang telah Engkau tunjukkan
Aamiin
Maaf, Ane telat lagi me-upload catatan saya, karena ada beberapa hal yang membuat menunda, semoga bermanfaat bagi Saudara-saudara.

Mari saling menginspirasi!!!^^

TeguhRevolutioner®
@teguhleader

Note ASLI KARYA SAYA