Sabtu, 02 Februari 2013

Jangan Mengeluh-Jangan Menyesal




“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (TQS. AR-RUUM[30]: 54)

Yarhamukallah..semoga antum/na selalu dalam limpahan rahmat Allah terutama nikmat iman dan kesehatan. Nikmat iman agar selalu memberdayakan waktu dengan maksimal dan penuh manfaat dan nikmat kesehatan agar jasmani kita selalu mendukung ruh kita untuk beramal dengan maksimal dan total. Seperti nasihat Rosulullah bahwa dua nikmat yang sering terlewat dari manusia adalah nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang.

Assalamu’alaikum warohmatullah...^^
Ahad Pon, 3 Februari 2012

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (TQS. AL-MA’AARIJ[70]: 19)
Mengeluh, siapa yang tak pernah mengeluh dengan kehidupan dunia ini coba’? Hampir setiap waktu, mengeluh adalah sebuah tindakan yang kita lakukan saat menghadapi keadaan hidup yang melelahkan, menjemukan ataupun menerima keadaan yang tidak seperti harapan.

Subhanallhah...

Mengeluh memang tampaknya memang menjadi sunnatullah seperti yang difirmankan Allah Ta’ala dalam suroh Al Ma’aarij diatas. Artinya kebiasaan yang umum dan “berpotensi ada” pada setiap diri manusia.
Mengeluh bolehkah?

Boleh saja bagi kita untuk mengeluh, karena itu adalah asasi kita. Namun jangan sampai keluhan kita itu merugikan orang lain (membuat orang lain tidak nyaman alias membuat tudak tenang) ataupun jangan sampa keluhan tersebut mendzalimi kita sehingga membuat kita semakin terpuruk dan parahnya semakin kufur dengan nikmat.

Tentang mengeluh, saya punya sedikit inspirasi dari sebuah hobi saya. Saya mempunyai salah satu hobi diantara sekian kesukaan saya yaitu nge-gym atau olahraga angkat beban. Sudah menjadi impian yang manusiawi bagi setiap kaum adam tentunya untuk memiliki badan yang ideal, gak kurus amat dan gag gendhoet banget..haha. Ya minimal ada enam kotak di perut. Tapi saya tidak akan membahas ke situ, ada hal lain yang bagus untuk diceritakan. Secara teknis, angkat beban itu adalah “pemaksaan” bagi otot tubuh untuk mengerjakan suatu beban diluar kebiasaan (extraordinary weights), sehingga dari pemaksaan itu tadi akan memacu perkembangan otot serta pembakaran lemak pada otot. Secara biologis, otot yang bekerja diluar kebiasaan itu sama artinya dengan “merusak” sebuah tatanan yang aman damai toto tentrem loh jinawe.hehe. Sekilas pandang memang ngeri ya, sesuatu yang sudah tertata nyaman malah kita rusak. Dan biasanya ditandai dengan badan kita sakit semua setelah latihan angkat beban ini, terutama bagi yang baru pertama melakukannya. Dan hal ini yang membuat kita menjadi malas lagi untuk angkat beban biasanya, saya punya pengalaman waktu pertama kali nge-gym. Memang setelah angkat beban itu tak tersasa dampak dari over contraction dari otot saya, tapi setelah bangun tidur pagi mau bangun tu wah-wah...sakit semua dari lengan, dada, punggung semua bagian yang kemarin “dirusak”, sampai-sampai untuk solat pun bergerak dengan gerakan yang amat pelan.

Namun justru inilah “awal yang bagus”, awal yang bagus bagi tubuh untuk “merekonstruksi ulang" bentuk otot melalui protein. Sehingga orang yang menginginkan bentuk tubuhnya ideal tak hanya sekedar angkat beban dan asal rusak otot doang, namun juga harus di-backup dengan nutrisi yang memadai dan cukup.

Artinya apa? 

Sahabat Revolutioner, seperti itulah kehidupan kita.
Tanpa kita sadari, hal seperti ilustrasi saya di atas sering kita alami dalam kehidupan ini. Kita sudah dalam keadaan nyaman, barangkali sudah kecukupan lah. Dan sudah menjadi sunnatullah pula bagi setiap manusia menginginkan dirinya untuk menjadi dan menempatkan dirinya pada posisi yang lebih baik (bahkan kalau bisa yang paling baik diantara manusia yang lain). Hal ini yang memaksa manusia untuk bergerak kesana kemari, sibuk ini dan itu, aktif ikut ini dan itu.

Namun yang menjadi dilemanya adalah tanpa kita sadari kesibukan-kesibukan tersebut justru menjadi alasan kita untuk mengeluh bahkan kufur nikmat. Coba ambil contoh, sebagai seorang mahasiswa tentu kita diutus orang tua sekolah adalah agar kita semakin berwawasan bijak. Sama konsepnya, pikiran kita ini artinya kita “paksakan” agar berpikir. Dengan jalan bersekolah tadi itu, dengan bersekolah, latihan dan belajar serius maka tak ayal diri dan nurani kita pun akan lebih mulia dengan ilmu-ilmu tersebut. Sama hal nya dengan nge-gym tadi, kita akan mendapatkan otot byceps ataupun tryceps yang indah jika kita mau “menyiksa kedua bgian otot kita tersebut. Kalau kita Cuma tiduran di rumah, bengong, membiarkan otot kita di zona nyaman, yah bagaimana mau terebentuk kalau begitu.

Sahabat Revolutioner yang saya cintai,
Seringkali kita mengeluh dan mengeluh pada setiap usaha pemuliaan dan pembaikan diri kita. Saat otot sudah kita paksa untuk tidak di zona nyaman, kita justru akan lebih terfokus pada rasa sakit yang muncul setelah latihan. Dan akhirnya apa? Membuat kita malas untuk latihan lagi...nyerah.

Padahal jika kita tak menghiraukan rasa sakit itu dan lebih brkonsentrasi pada pmberian nutrisi yang baik, akan membuat otot tubuh kita jauh lebih baik. Sama sahabat, ketika dalam usaha pemuliaan kita menemukan kejenuhan, kegagalan, kesuntukan, kegundahan ataupun kegalauaan sungguhlah bukan langkah yang bijak jika lantas kita memutuskan menyerah atau banting stir kesana kemari.

Life is not easy!
Tidak ada hidup di dunia ini yang mudah, penuh tantangan dan resiko. Hanya orang yang tak pernah ragu dengan keputusannya lah yang akan berhasil. Lantas bagaimana?

Tak usah mengeluh!
Cari nutrisi hidup yang tepat agar “otot kehidupan” kita terbentuk dengan baik dan sempurna. Rasulullah telah meninggalkan dua nutrisi yang sangat kompleks kandungannya untuk “tubuh” kita. Al Quran dan Sunnah Rosulullah, adalah dua peninggalan dari Rosulullah untuk membimbing kita kepada pemuliaan, tidak hanya pemuliaan dunia saja namaun juga peuliaan akhirat.

Tak usah risau!
Menikmati rasa sakit itu memang menantang, secara mindset kita bisa memaksa hati agar tetap “tersenyum” walaupun sakit, namun secara perasaan dan rasa hal itu sulit untuk dibuang.
Ya bagaimana tidak sulit, soalnya kita rasakan sih. Coba saja kita cuek dengan rasa sakit itu, ibaratnya kayak dibius lah. Matikan syaraf-syaraf rasa sakit dan berilah nutrisi pada rasa sakit itu.
Kalau dalam gym, jika otot kita sakit kita cukup rest sejenak dan ekstrim lagi yaitu dengan “memaksa” otot kita untuk angkat beban yang lebih berat. Karena apa, ibaratnya kita sakit karena mengangkat beban 10 kg, jika pengen sakit karena beban 10 kg itu hilang, maka angkatlah beban yang lebih berat lagi.

Jangan menyesal!
Sahabat Revolutioner, tentu jalan pemuliaan akan kita dapat dengan membaikkan diri. Membaikkan diri ini tak kan kita dapat jika kita selamanya ada dalam kamar zona nyaman. Bagaimana kita bisa mengenal matematika jika kita tak pernah mau bersekolah. Kira-kira seperti itu ilustrasinya.

Segala masalah, kagundahan yang kita alami itu adalah buah tindakan kita. Terlepas apapun itu, pastikanlah bahwa tindakan kita itu adalah  tindakan pemuliaan diri kita, jangan sesali, jangan resahkan, dan jangan keluhkan. Karena itulah jalan yang kita ambil untuk memuliakan diri kita!!!Sepakat??!

Tak akan memiliki tubuh yang ideal jika selepas latihan saya mengeluh sakit, tak kan menjadi hebat jika alasan rasa sakit setelah nge-gym membuat kita beralibi makan sepuasnya tak diatur dan tidur seharian karena capek. Tak kan menjadi hebat!! Ingat....Tak kan menjadi hebat dengan mengeluh!!! Sepakat???!!!

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (TQS. LUQMAN[31]: 12)


Salam Bijak!
Mari saling berbagi inspirasi!!^^

*Terkadang saya malu untuk menyampaikan risalah-risalah ini semua karena diri saya yang masih banyak kurang, salah dan belum bisa sempurna melaksanakan kebaikan.Namun bagi saya itu tak menjadi halangan untuk saling menginspirasi. Karena Rasul mengajarkan untuk saling mengingatkan dan menasihati. Maka dari itu saya mohon maaf jika keburukan itu tampak di depan saudara sekalian. MARI MENGINSPIRASI^^

@teguhleader

*artikel karya saya ini dapat anda lihat pula di akun facebook saya: Teguh Setyawan (Al Kazim)

"TeguhRevolutioner", semangat be-revolusi untuk lebih baik dan peduli.

Senin, 10 Desember 2012

Happiness is Choice (The Art of Tea)-part1


Akedemi Meteorologi dan Geofisika, 11 Desember 2012.
09.40-10.30 WIB

Salam semangat akurat saudara/I ku semoga kesehatan dan kabar baik selalu menyertai antum/na sekalian.

Di waktu ini, saya akan berbagi sebuah cerita tentang nikmatnya menikmati teh, teh kehidupan.
Kalau menceritakan momen ini, angan saya selalu terbawa di dua momen masa lalu. Yang pertama adalah momen bersama kakek saya setiap pagi minum teh atau kopi bersama kemudian beliau menceritakan dongeng atau cerita berhikmah( karena waktu itu masih belum sekolah,hehe) kalau  tidak beliau sekedar mengecek hapalan saya tentang nama-nama provinsi, anak hewan(dalam bahasa jawa tentunya) ataupun hal-hal lainnya. Momen yang selalu kurindu dan tak mungkin untuk dihadirkan lagi.

Momen yang kedua adalah ketika dewasa ini, sebelum masuk kegiatan belajar mengajar di AMG tentulah menjadi kebiasaan bagi setiap taruna untuk melewati “ritual” yang bernama ospek. Ospek atau masa orientasi seorang taruna pun dapat dibayangkan penuh ketidaknyamanan dan tekanan. Apalagi waktu itu mendapat amanah menjadi danton (komandan pleton ‘ketua kelompok) dalam pleton ospek. Fiuhh..pressure dari senior memaksa saya untuk bisa tahan dan berbesar hati. Dan momen indahnya itu salah satunya adalah ketika saya dapat menikmati segelas teh hangat sepulang dari ospek. Segelas teh hijau yang menyegarkan dan menenangkan.

Sahabat Revolutioner…

Dalam sebuah literatur kehidupan, saya pernah membaca bahwa para tetua di Jawa biasa memaknai kehidupan di dunia hanyalah tempat untuk mampir minum ‘Urip nang ndonya iki mung mampir ngombe’. Sebegitu sederhanakah kehidupan ini? Itulah dunia, lain di barat lain di timur. Jika kita memandang kehidupan orang-orang Barat, mereka akan cenderung memandang kehidupan sebagai perjuangan dan persaingan. Lain di timur, kehidupan kan dipandang sebagai serangkaian keindahan dan keharmonisan.
Orang timur adalah bangsa yang sangat menyukai teh, kenapa minum teh menjadi kebiasaan yang sangat digemari orang timur? Menurut saya, minum teh bukanlah sekedar menikmati hangat serta  wangi aromanya saja. Ada pemaknaan yang lebih dari aktifitas minum teh ini.

Bagi orang Jepang, teh adalah simbol kesadaran. Oleh karenanya kita pasti juga pernah mendengar tentang The art of tea, yaitu seni bagaimana menikmati teh. Menikmati teh dalam cangkir yang dituang dari teko, kemudian kita hirup aroma wangi the tersebut adalah kenikmatan tersendiri apalagi jika dinikmati di areal pegunungan yang sejuk. Akan membawa pikiran kita dalam keadaan yang menenangkan dan penuh kedamaian.

Sahabat, sebenarnya apa sih pembelajaran dari The art of tea ?

Inti pembelajaaran dari The art of tea adalah tentang menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran.Kesadaran apa? Kesadaran bahwa kehidupan ini memberikan pilihan-pilihan bagi kita. We are what we choose, artinya kita yang sekarang, dulu dan masa mendatang adalah campur tangan pilihan-pilihan yang kita ambil atas kehidupan kita. Oleh karenanya banyak orang timur mengajarkan kepada anak-anaknya agar hidup penuh kesadaran.

Berbicara tentang kesadaran untuk hidup bahagia, ada yang berpendapat bahwa kebahagiaan pun adalah sebuah pilihan, happiness is a choice. Pilihan karena ada orang yang memikirkan kebahagiaan sendiri dan kahirnya berujung pada banyak penderitaan. Namun ada pula yang memikirkan pula kebahagiaan makhluk lain, dan akhirnya orang-orang seperti inilah yang akan menemukan kebahagiaan yang paripurna (ultimate happiness). Dan kedua hal ini pun juga pilihan, pilihan hidup kita. Live is choice!!!

Dalam note part 1 saya ini saya ingin membedah kesadaran kita, kesadaran bahwa kebahagiaan adalah pilihan.

Mengutip kata-kata Pak Gobind Vashdev, “Tubuh dan pikiran kita hari ini terjadi karena apa yang kita lakukan dan pikirkan pada masa lalu, tubuh dan pikiran apa yang ingin Anda lihat pada masa depan, tergantung pada apa yang akan Anda lakukan dan pikirkan mulai saat ini dan ke depannya.”

Salam Semangat akurat!!!^^

Sampai jumpa di note part 2, insyaallah akan segera dirilis. Bismillah…
=========================================================================
Tulisan karya saya, silahkan menyebarkan kepada yang lain jika bermanfaat.

FOLLOW: @teguhleader

TeguhRevolutioner© , Revolusikan diri ke arah lebih baik!!!

*Artikel ini dapat pula saudara muslim/ah lihat di akun Facebook saya: Teguh Setyawan

Senin, 26 November 2012

GPS Kehidupan

Djayakarta, 21 November 2012

Bismillah arrohman arrohim
Semoga rahmat Allah selalu tercurah ke hadirat antum/na semua. Dan semoga keselamatan, keteguhan dan kekuatan senantiasa di berikan kepada saudara muslim/ ah semua di dunia ini terkhusus saudara di bumi Al Quds yang tengah didzalimi oleh musuh abadi umat muslim. Di kali ini ane ingin menceritakan sebuah pengalaman yang saya alami, pengalaman yang mengajarkan betapa pentingnya “penunjuk” dan “petunjuk” dalam perjalanan.

Sekitar dua minggu lalu saya kebetulan mendapat amanah untuk dinas luar menghadiri sebuah undangan Dies Natalis sebuah perguruan tinggi lain. Perguruan tinggi di bilangan Cinere ini memang tak asing namanya di telinga saya. Namun berkelana di wilayah sepadat Jakarta bagi anak kampung seperti saya adalah hal yang membuat saya berpikir dua kali untuk berangkat. Bagaimana tidak, Bapak saya sering menakut-nakuti, “Ati-ati yen mlaku-mlaku nang Jakarta, rame..opo maneh ngangge motor, nek kesasar ra iso mbalek mengko.” (Hati-hati kalau jalan apalagi pakai motor di jakarta,  kalau tersesat tak bisa muter kembali nanti). Sontak saja nasihat beliau ini membuatku “galau”..haha(semalaman gag bisa tidur kepikiran bagaimana solusi terhadap hal ini.

Ahh..akhirnya paginya tetap nekat saja saya pergi dengan seorang teman yang ternyata juga tak tahu arah serta rute ke tempat tersebut. Wahh..benar-benar hal yang membuatku semakin panik. Namun kepanikan itu tak lama setelah teman saya menjelaskan singkat rute ke sana, akhirnya apa yang dikhawatirkan Bapak saya terjadi...biarpun sudah dijelaskan teman saya,  ternyata tetap saja bingung karena banyak cabang...haha dan akhirnya pun tersesat. Alhamdulillah, saya baru teringat bahwa hape saya telah terintegrasi dengan piranti lunak bernama “peta” yang terkoneksi dengan satelit GPS milik Amerika itu. Hanya dengan men-setting arah tujuan saya, si peta ini mampu membimbing saya langung ke rumah, bahkan dengan jalur rute yang paling dekat dan paling cepat.

Sahabat revolutioner, dalam menjalani kehidupan di bumi Allah ini banyak sekali akan kita temui kebuntuan- kebuntuan dalam menghadapi ujian Allah, baik itu akibat ketidaktahuan kita ataupun keacuhan kita untuk mencari solusi dari kebuntuan tersebut. Seperti saya tadi, ada golongan orang yang benar-benar stress dan takut untuk menjalani kehidupan ini. Katanya penuh resiko. Beliau Bapak saya selalu berpesan setiap tindakan akan mengandung resiko. Dan nilai serta kualitas tindakan yang kamu ambil tadi adalah dengan mempertahankan dan menunjukkan bahwa apa yang kita lakukan adalah benar dan berkualitas. Dan benar memang, orang yang tidak mau berubah, orang yang hanya berdiam diri dengan ketakutannya tidak akan berubah dari keadaannya tersebut.

“Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.”( TQS AL  A’ROOF[7]: 30)

Dalam ayat tersebut terdapat makna pilihan bagi kita manusia. Kita diberi pilihan untuk menjadikan diri kita sebgai golongan orang yang mendapat petunjuk ataukah menjadikan diri kita sebagai golongan yang sesat. Dan kebanyakan dari manusia justru menjadikan setan sebagai pelindung, pemberi petunjuk padahal kita ketahui bersama secara galib atau umum bahwa setan adalah golongan yang nyata-nyata menjadi musuh kita dan tanda itu adalah kita berdiam diri merasa sudah mendapat petunjuk, padahal belum bahkan tidak.

Pelajaran kedua yang dapat kita ambil adalah bahwasanya petunjuk itu kita cari, bukan berpangku tangan menunggu. Hidayah itu tak kan serta merta langsung turun. Bahkan untuk mendatangkan hujan saja kita harus terlibat pula dalam siklus hidrologinya agar hujan cepat turun.

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.” (TQS AZ ZUMAR[39]: 41)

Dari ayat tersebut, nyata-nyata Allah telah memberikan sarana yang nyata. Bagaimana kita menghadapi problematika kehidupan ini. Yaitu melalui kitab kitab terakhir yaitu Al Quran Al Huda. Dan Allah nyatakan pula bahwa setiap manusia mempunyai pilihan sendiri. Yaaa...kalau memang dia memilih jalan kesesatan sebagai pilihan ya itu pilihan dia. Kita tidak punya hak untuk mengintervensinya lebih lanjut, bahkan kita pun tak ada tanggungan jawab terhadap apa yang mereka lakukan. Sungguh Allah benar-benar Maha Adil.

Sahabat, demikian tadi dua pelajaran yang ane dapat dari sebuah perjalanan dinas. Bahwasanya Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu dalam memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya. Dan sama sekali kita tak punya kuasa untuk menghadirkan hidayah bagi seseorang meskipun orang tersebut seorang abid dan alim agama. Kita hanya bisa menjadi perantara hadirnya hidayah Allah kepadanya.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (TQS QOSHOSH[28]: 56)

Namun sungguh miris dan tidak nyaman memang jika melihat ketimpangan di sekitar kita. Apalagi itu dilakukan oleh saudara-saudara kita yang terikat dalam ukhuwah. Gatel banget rasanya dan ingin segera “bertegur-sapa” kepadanya.Dan sungguh merugi orang yang diberi petunjuk namun tidak memanfaatkan momen tersebut dan justruberkeras hati dan kepala menolak. Semoga Allah selalu memberikan hidayah-Nya kepada kita. Aamiin

“Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (TQS AL KAHFI[18]: 57)

Salam Revolutioner!!^^
Terimakasih sangat teruntuk Ibuk atas doa, semangat, dukungan, dan kepercayaan yang diberikan tiada henti^^
^^^^^^^^^^
Ya Allah Tuhanku, jadikanlah hati kami hati yang selalu terbuka dan peka menerima hidayah dan petunjukmu. Bersihkan hati ini dari nafsu dunia yang membutakan kami.
Ya Allah Yang Maha Menguasai Hati,jadikanlah jiwa dan raga ini sebagai sarana penghantar, penyampai hidayah kepada saudara-saudara kami. Teguhkanlah, muliakanlah kami dengan kemuliaan-Mu.
Aamiin.

==================================================================================
Tulisan karya saya, silahkan menyebarkan kepada yang lain jika bermanfaat.

FOLLOW: @teguhleader

TeguhRevolutioner© , Revolusikan diri ke arah lebih baik!!!

*Artikel ini dapat pula saudara muslim/ah lihat di website saya: www.teguh-be-leader.blogspot.com

Senin, 05 November 2012

Mencintai yang Tidak Sempurna dengan Sikap yang Sempurna

Pagi Revolutioner’s...
Lama tak bersua dalam catatan inspirasi..
Kali ini ane akan berbagi kepada antum/na artikel inspirasi rekan ane yang tak mau disebut namanya.
Tentang bagaimana mencinta. Mencintai sesuatu, seseorang dengan ketidaksempurnaannya dengan sikap serta cara kita yang sempurna.
Bismillah..salam revolutioner..Semangat Akurat!!!^^
*****
Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik. Cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah.
Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai, Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, Itulah kesempatan. Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, Itu bukan pilihan, itu kesempatan. Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, Itupun adaah kesempatan.
Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan. Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi, Itu adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain Yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu dan tetap memilih untuk mencintainya, Itulah pilihan.
Perasaan cinta, simpatik, tertarik, Datang bagai kesempatan pada kita. Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Pilihan yang kita lakukan. Berbicara tentang pasangan jiwa, Adasuatu kutipan dari film yang Mungkin sangat tepat : "Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil" Pasangan jiwa bisa benar-benar ada. Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang Yang diciptakan hanya untukmu. Tetapi tetap berpulang padamu Untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, atau tidak... Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita, Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita, Adalah pilihan yang harus kita lakukan. Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.
*****
Ya Allah, jadikanlah kami sebagai hambamu yang istiqomah dalam kebaikan, qonaah dan bersabar dengan segala keputusan dan terjaga dalam lautan nikmat-Mu. Satukanlah kami dengan hati-hati yang selalu menyebut nama-Mu, dalam jiwa yang selalu Engkau jaga. Dalam lingkungan yang selalu menghidupkan dan membangkitkan semangat kami dalam pembaikan diri. Aamiin
Semoga note singkat ini menjadi inspirasi kita untuk lebih bersyukur, berlapang hati dan qona’ah  dalam menjalani kehidupan yang tak terlepas dari yang cinta. Cinta yang membuat semuanya hidup dan berjalan.
Bersyukur adalah keharusan, namun LEBIH BERSYUKUR adalah adalah sebuah keharusan yang harus diupayakan.^^
Katakanlah:"Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (TQS. Ali Imron: 31)
Artikel inspirasi saya, silahkan menyebarkan, berbagi  kepada yang lain jika bermanfaat.^^

Follow: @teguhleader
TeguhRevolutioner© , Revolusikan diri ke arah lebih baik!!!

*Artikel ini dapat pula saudara muslim/ah lihat di akun Facebook saya Teguh Setyawan (Al Kazim)

Selasa, 28 Agustus 2012

KAYA BERMANFAAT MISKIN BERMARTABAT


Mbloro, 25 Agustus 2012

Kesenjangan ekonomi tampaknya tidak dapat dihindari. Negara maju sekelas Jepang, Cina Amerika Serikat pun tak mampu lepas dari kesenjangan ekonomi. Kesenjangan ekonomi adalah terjadinya ketimpangan dalam distribusi pendapatan antara kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi dan kelompok masyarakat berpeghasilan rendah (hendrakuswandi.blogspot.com). Kesenjangan ekonomi dan kemiskinan adalah satu paket masalah besar yang paling mendominasi negara-negara berkembang.

Pengamat ekonomi berpendapat, kelompok masyarakat yang sangat kaya masih menjadi penyokong utama dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia yaitu melalui konsumsi rumah tangga mereka. Hal ini memperjelas bahwa orang yang sangat kaya ternyata memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia.

Kesenjangan ekonomi ini pulalah yang memancing lahirnya jiwa-jiwa pengeluh,sombong, dan acuh terhadap orang lain. Baik itu si kaya ataupun si miskin seolah saling acuh. Yang kaya merasa dirinya cukup sehingga terjangkitlah jiwa sombong dalam hati mereka, hal itu ditambah dingan sikap acuh tidak mau memberikan kemanfaatan kepada golongan yang membutuhkan, dia berpikir seolah harta yang ia punya adalah hasiil jerih payah sendiri, “Enak aja loe minta!”, begitu mungkin gumam dalam hati mereka.

Yang miskin juga tak jauh beda, merasa dirinya penuh kekurangan itulah dijadikan alasan untuk “mengeluh” pada Allah, mengeluh dan tiada hari tanpa mengeluh. Seolah lafadz “Alhamdulillah yaa Robb” itu teramat sulit untuk diucap. Lebih lanjut mereka akan mudah terpengaruh pikirannya untuk melakukan tindakan kriminal demi terpenuhinya kebutuhan hidup mereka.

Kaya dan miskin bukan lah suatu kebetulan, keduanya bisa jadi adalah sebuah ujian dari Allah kepada kita. Ujian untuk mengetahui kualitas hati kita, apakah kita memasukkan diri kita sebagai golongan ahli syukur atau yang kufur nikmat. Sehingga apabila kita lulus ujian ini, berkah hidup akan kita dapatkan. Fiddunya wal akhirot. Insyaallah.

Dan saya kira pun semua orang akan sepakat untuk menolak yang namanya kemiskinan, karena sudah menjadi fitrah manusia menyukai sesuatu yang menyenangkan dan menentramkan. Namun sudah menjadi keputusan Allah bahwasanya keseimbangan di dunia ini memang ada. Jika ada yang miskin maka akan ada yang kaya, ada yang baik ntuk mengimbangi hadirnya yang buruk, ada yang menjadi atasan dan ada yang menjadi bawahan. Semua itulah rupa-rupa keseimbangan dunia. Karena jika dunia ini hanya dipenuhi kebahagiaan saja, itu namanya surga. Begitu pula dunia ini jika penuh kesusahan saja itu namanya neraka. Dan dunia kita ini bukan keduanya dan merupakan ada di anatara keduanya.

Khoirunnas yanfa’uhum linnas”, sebaik-baiknya manusia yaitu yang bermanfaat bagi sebagian mereka. Jadilah orang yang bermanfaat, sudah seharusnya yang kaya akan menjadi baik dan bermanfaat dengan kekayaannya yaitu jika mereka dapat memberikan manfaat atas kekayaan mereka kepada yang miskin. Begitu pula yang miskin, seharusnya tak perlu malu ataupun mengeluh dengan keadaannya. Jangan sampai kita merendahkan diri dengan menjadi seorang peminta-minta biarpun kita miskin secara ekonomi. Jadilah pribadi yang kaya hati walaupun secara keduniawian sangat kurang. Janganlah menjadi pribadi yang selalu mengeluh dengan keadaan ataupun menyombongkan diri karena sudah hidup berkecukupan.

Manusia ini diciptakan Allah sebagai makhluk sosial. Yaitu sebagai makhluk yang akan hidup bersama-sama dengan orang lain. Ibarat biarpun kita kaya harta namun kita tak punya saudara, tetangga maka kebahagiaan pun tak kan terasa. Sudah sepatutnya kita bersyukur dan mememlihara sifat persaudaraan ini bersama muslim yang lainnya.

Semoga sekelumit opini revolusioner ini mampu membangkitkan kepercayaan diri serta jiwa rendah hati rekan-rekan semua. Banggalah atas nikmat yang diberikan Allah, syukuri dengan menjaganya.

Jika mengeluh tidak masuk kategori solusi dari setiap masalah, maka sudah sepatutnya kita tak perlu menghadirkan tindak tanduk keluhan ini kapanpun dan dimanapun.

Terkadang kita baru bisa bersyukur setelah melihat penderitaan orang lain. Pada saat itulah kita sadar bahwa kita termasuk orang yang beruntung.

SalamRevolutioner!!!^^
===================================================
Tulisan karya saya, silahkan menyebarkan kepada yang lain jika bermanfaat.
 
FOLLOW: @teguhleader
 
TeguhRevolutioner© , Revolusikan diri ke arah lebih baik!!!
 
*Artikel ini dapat pula saudara muslim/ah lihat di akun saya FB: Teguh Setyawan


PELAJARAN DARI DEBU


Blora Kotanya Sate, 2 Syawal 1433 H
20.48-21.34 WIB, di samping hembusan kipas angin.

Hampir setiap sudut rumah kita tak kan lepas dari yang namanya debu. Kotoran satu ini merupakan partikel ringan yang kerap menyita perhatian kita. Debu yang kecil ini ternyata jika terakumulasi menjadi satu mampu membuat risih mata kita dan membuat gatal hidung kita.

Ada sebuah pelajaran yang menarik dari debu ini. Yaitu bagaimana debu ini tampaknya selalu ada di sekitar kita meskipun kita membersihkan ruangan setiap hari. Entah itu ruangan yang memang kotor ataupun ruangan ber-AC sekalipun, tak luput dari yang namanya debu.

Dalam kehidupan nyata kita, debu ini ibarat “kotoran”. Kotoran yang selalu menghiasi relung-relung ‘nurani’ hati kita. Tampaknya sebuah keniscayaan jika hati manusia tak bisa bersih dari dosa, kesalahan. Sama laiknya debu, sebuah keniscayaan pula ruang atau benda tak kan luput dari “tempelan” si debu ini.
Kecuali jika memang kita menciptakan ruang yang hampa udara dan tertutup. Dapat dipastikan aman deh dari si debu. Dan lagi-lagi jika kita renungkan, kehidupan ini keadaannya bukanlah layaknya ruang hampa, bukanlah di dalam botol kedap udara. Kehidupan ini penuh dengan singgungan, kontak ‘komunikasi’. Jika kita mengkondisikan diri kita di “ruang hampa” maka kemungkinan tak akan kotor hati kita. Tak kotor memang namun kita juga tak kan hidup di kondisi seperti itu karena keadaan seperti itu impossible. Hehe

 Saudarakau yang dirahmati Allah,

Ruangan yang kotor, ruangan ber-AC itulah ibarat hati kita. Bagaimana kita menjaga ‘merawat’ hati kita, hati milik Allah ini yang nanti juga akan diminta-Nya kembali serta dimintai pertanggungjawaban. Coba antum renungkan, ruangan tertutup akan meminimalisir masuknya debu, apalagi ruangan ber-AC yang notabene memang harus terlindung rapat. Seperti itulah hati kita, hati kita tak ubahnya seperti ruangan yang harus dijaga kebersihan di dalamnya demi kenyamanan bekerja atau tinggal di dalamnya.

Tampaknya kita terlalu acuh dengan “debu-debu” hati kita. Kita tak pernah memasang pintu penutup untuk ruang hati, tak pernah membeli kusen jendela untuk sirkulasi ruangan, bahkan enggan memasang AC walaupun sebenarnya mampu. Hasil akhir semua tergantung usaha, ruangan yang bersih tentu nyaman dan disuka setiap orang, ruangan yang terjaga tentu akan menghadirkan rasa mantap bagi seseorang untuk menempati.

Kata leluhur saya (orang jawa), “Jer basuki mawa bea” artinya segala sesuati yang baik, bagus itu membutuhkan usaha besar atau biaya besar untuk mendapatkannya. Menjaga hati tak semudah membeli sepotong roti seribu rupiah, perlu tekad dan usaha yang kuat agar “ruang hati” kita dapat kita pasangi pintu, jendela, perlengkapan kebersihan bahkan AC. Perlu “pembiayaan” yang mahal untuk melengkapinya. Dengan berbagai macam kelangkapan tersebut harapan kita tentunya agar hati ini lebih terjaga dari kotoran.

Debu memang sebuah keniscayaan dalam kehidupan dunia ini. Kita tak dapat menghindarinya. Bahkan sosok sesempurna Rasulullah saja juga pernah dihinggapi debu (tentunya tidak separah kita, kalau kita mah debu yang tebal mungkin sudah menjadi kerak, hehe). Walaupun Allah selalu “menjual” bahan pembersih yang tiada batasnya serta menyediakan kelengkapan yang tiada batasnya, namun setidaknya kita harus menjaga ruangan titipan Allah ini dengan segala upaya untuk kenyamanan kita juga sebagai wujud terimakasih kepada Allah. Coba antum rasakan lagi, jika kita dipinjami sesuatu oleh orang lain kemudian kita jaga betul barang tersebut, subhanallah pasti deh si empunya bakal percaya dan sayang ma kite. :)

Selepas antum membaca note ane ini, coba sebelum tidur atau bahkan sekarang sejenak sebelum antum mengalihkan kursor, cobalah cek ke dalam ruang hati antum semua. Sudahkah bersih dan rapi ruangan hati antum? Kira-kira sudah komplit belum perlengkapan ruangan di dalamnya? Apakah baru punya pintu, sudah punya AC barangkali. Atau malah terbuka blak tanpa pelindung pintu dan jendela satu pun? Dan kita tampaknya pun acuh dengan dekilnya ruangan kita. Sudah berkerak penuh debu, berantakan lagi, parahnya gelap pula. Naudzubillah, Antum betah tuh tinggal di tempat seperti itu???^^

Allah telah menyediakan “pembersih” dan segala kelengkapan untuk menjaga dan menyamankan kita, SEMUANYA G.R.A.T.I.S. dan tergantung kita mau ndak memasang dengan susah payah, atau barangkali pasrah saja lah dengan keadaan yang ada toh juga kotor lagi. Begitukah?^^

Betah atau tidak, semua ada di akal kita sekarang. Beranjak dan bertekad membersihkan dan menjaga, atau membiarkan seperti gua kotor? Pertanggungjawaban ada di kita masing-masing selaku “peminjam ruangan”, terserah pemilik ruangan nanti mau “menghadiahi” apa atas tindakan ada sebagai orang yang dipinjami.

Siap membersihkan ruangan antum? Niat dan keinginan untuk belajar adalah awal tindakan yang baik!!!^^

Salam revolutioner!!!
====================================================
Tulisan karya saya, silahkan menyebarkan kepada yang lain jika bermanfaat.
 
@teguhleader
 
TeguhRevolutioner© , Revolusikan diri ke arah lebih baik!!!
*Artikel ini dapat pula saudara muslim/ah lihat di akun saya FB: Teguh Setyawan


Silaturahim, Ajang Pamer Terselubung

Bumi Seso, 28 Ramadhan 1433 H

Lama tak jumpa, lama tak berbagi inspirasi lewat note. Tak nongol tak berarti tergerus oleh kenikmatan dunia hingga terlupa untuk berbagi. Kali ini, ada beberapa hal mengesankan di bulan ramadhan yang membuat hati saya tergerak kuat untuk berbagi kepada antum sekalian.

Ramadhan 1433 H kali ini adalah ramadhan pertama kali dalam hidup yang saya habiskan tidak banyak bersama keluarga (efek merantau..hehe), apa yang berkesan? Yang mengesankan adalah betapa mahalnya silaturahim bagi orang perantau. Melewatkan ramadhan bersama keluarga adalah kebhagiaan tersendiri bagi setiap umat muslim. Bahagia bersama ikut merasakan “berat”-nya menahan nafsu, nikmatnya bersama membatalkan puasa dengan hidangan sederhana yang dibumbui cinta. Namun bagi perantau yang jauh dari keluarga tak kan bisa menikmati kebahagiaan ini.

Namun semangat untuk berjumpa dengan keluarga sangat tak pernah pudar tampaknya. Mereka rela menggelontorkan kocek yang cukup tinggi demi tiket pulang ke kampung halaman, ataupun rela bercapek ria menempuh perjalanan jauh bersama keluarga kecil untuk bersua menyatu dengan keluarga besar dalam suasana bahagia lebaran.

Subhanallah, benar kata Rasulullah bahwasanya silaturahim itu akan memperpanjang umur. Karena jika kita renungkan, silaturahim akan menghadirkan kebahagiaan, mengurangi rasa acuh antaranggota keluarga sehingga hati pun akan terasa senang dan nyaman. Jika hati damai, tenang, nyaman maka pikiran tak tertekan sehingga akan berdampak pada psikologis dan ruhani kita.

alhamdulillah, semoga kita senantiasa diberi kesempatan Allah untuk meluaskan dan menjaga silaturahim. Aamiin.

Niatan silaturahim hendaknya tak tercampur dengan tindakan (entah itu disengaja ataupun tidak) yang tak sepatutnya dilakukan. Banyak pemandangan yang kita temui ajang silaturahim adalah kondisi yang dimanfaatkan untuk ajang unjuk kesuksesan diri. Yang kota unjuk kesuksesan hidup di kota, yang desa tak mau kalah memaksakan diri pula menunjukkan eksistensinya betapa hidup di desa pun juga “menyukseskan”. Hal ini tentu akan membuat keluarga yang “belum mampu” unjuk gigi menjadi minder. Minder yang berujung tidak mau berkumpul dengan keluarga yang lain.

Sudah tak sepatutnya sebagai muslim kita hidup dengan gaya seperti ini, mari kita berusaha dan saling mengingatkan untuk hidup sederhana dan peduli dengan sesama. Sebuah tindakan sederhana yang sarat kebaikan sebagai penyempurna amalan ibadah ramadhan kita. Alhamdulillah.

Mau panjang umur? Mau barokah? Jaga silaturahim.

Gag ada ruginya..banyak untungnya...

Salam Revolutioner
===================================================
Tulisan karya saya, silahkan menyebarkan kepada yang lain jika bermanfaat.

@teguhleader

TeguhRevolutioner© , Revolusikan diri ke arah lebih baik!!!

*Artikel ini dapat pula saudara muslim/ah lihat di website saya teguh-be-leader.blogspot.com