Selasa, 19 Juli 2011

SEMUDAH MENCABUT POHON TOGE


“Manusia tidak jemu memohon kebaikan dan jika mereka ditimpa malapetaka, dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” [QS Fushshilat(41) : 49]

Suatu siang yang terik selepas dhuhur jamaah ketika sedang bersua dengan ‘guru’ saya, sebuah pertanyaan dan jawaban yang menghenyakkan hati ini, “Nak, susahkah mencabut pohon toge?’’ cetus beliau. Aku bingung, memangnya toge itu pohon ya??? Sontak kujawab, “Sangat gampang banget, tinggal bethot (cabut) aja, ga repot pake piranti apapun.” Beliau melanjutkan, “Seperti itulah mudahnya kuasa Allah “meminta” kembali kesenangan, harta kita.”
Mungkin banyak yang belum tahu “pohon toge” tersebut, toge yang kita kenal dengan kecambah dari kacang hijau itu dianalogikan ‘guru’ saya sebagai pohon yang kecil dan jika kita cabut dari daun, batang dan akar pun tak ada yang tersisa. Bahkan terkadang tanah-tanah yang menempel ikut tercabut.
Sahabat muslim/ah, siklus kehidupan terkadang memosisikan kita berada “di atas angin”, tiada kesulitan yang mengusik damainya kehidupan. Dan tak jarang kondisi tersebut kerap membuat kita mengosongkan jiwa akan hadirnya Allah. Merasa tidak perlu Allah.

Dalam posisi yang “Pe-We” tersebut , kita akui kita dalam posisi yang menyenangkan, seakan berjalan tanpa ada pengawasan Allah, semua baik-baik saja tanpa keberadaan-Nya. Saking euphoria-nya sering kita bahkan lupa dan mengesampingkan kewajiban kita kepadan-Nya.

Kita juga melupakan bahwa kita juga mempunyai “tanggungan” orang-orang yang seharusnya kita ulurkan kasih sayang, pertolongan, bantuan dan kepedulian  karena sedang dalam “posisi” yang tidak seperti kita. Namun kita justru pertontonkan kemewahan, kenikmatan, kesuksesan yang kita dekap dalam kesendirian, seolah acuh. (Apa itu pribadi muslim?)

“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, ia banyak berdoa.” [QS Fushshilat (41): 51]

Lupa diri!

 Inilah salah satu sifat dan sikap jelek kita. Akhirnya ketika kita mendapat “giliran” penderitaan, tersentuh kesulitan hidup dan permasalahan, barulah kita sadar. Sadar bahwa kita telah melupakan-Nya, melupakan dengan tidak beribadah kepada-Nya ataupun mengesampingkan dan menundanya, melupakan dengan berbuat zalim kepada-Nya, diri sendiri, dan orang lain. Melupakan untuk peduli kepada hamba-hamba-Nya yang membutuhkan. Walhasil, kita akan menangis dan mengiba agar rahmat-Nya kembali hadir.

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya. Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan sendiri keingkarannya.  Dan sesungguhnya manusia itu sanagt bakhil karena cintanya pada harta.” [ QS Al  ‘Adiyat(100): 6-9]

Sobat Muslim, boleh jadi diantara kita sekalian sekarang ada yang dalam posisi mapan, sukses dan mempunyai kehidupan yang stabil. Dan sangat boleh jadi keadaan tersebut yang membuat kita lupa diri.
Kita perlu tahu dan harus sangat tahu bahwa kehidupan sangatlah mudah berubah dalam sekejap dan kejadian masa depan ada dalam genggaman-Nya, tentu kita akan berhati-hati dan lebih “peduli”. Karena semua itu mudah bagi Allah, “SEMUDAH MENCABUT POHON TOGE”.

Akhirnya, jika kenikmatan sedang berada dalam genggaman kita, mari selalu buka mata dan mata hati kita untuk selalu mengingat-ingat Dia dan mengingat hamba dan makhluk-Nya yang lain.

#artikel ASLI karya saya, inspirasi dari berbagi sumber
Mohon maaf bila ada kurang baiknya tindak dan tanduk dari penulis,

Salam amr ma’ruf!!^^
Hiduplah peduli!!
BERDAYAKAN!!^^

*syukron katsir to Ustadz Yusuf Mansur atas inspirasi “Amazing of Sedekah”-nya.


 
.


1 komentar:

  1. tulisan yang bagus bro, izin share ya :)
    salam kenal

    BalasHapus